Pelepasan Mary Jane masih mungkin – Kepala DOJ

Menteri Kehakiman Vitaliano Aguirre mengatakan masih mungkin bagi pemerintah Indonesia untuk membebaskan terpidana bagal narkoba Filipina Mary Jane Veloso jika pengadilan Filipina bisa menetapkan bahwa ia adalah korban belaka skema ilegal perekrut nya ‘.

Aguirre yakin Indonesia menangguhkan eksekusi Veloso sambil menunggu hasil kasus kriminal di provinsi Nueva Ecija terhadap perekrut pekerja Filipina di luar negeri ini, mitra Maria Cristina Sergio dan Julius Lacanilao. Kasus ini diajukan dengan Sto. Domingo, Nueva Ecija Pengadilan Wilayah Cabang 88.

“Proses peradilan mereka sedang menunggu hasil dari kasus di pengadilan Nueva Ecija,” kata Aguirre dalam sebuah wawancara. “Jadi, saya percaya bahwa Indonesia masih akan terus tindakan tidak terbatas pada kasus Mary Jane justru karena kasus Nueva Ecija.”

Dia mengatakan pembebasan Veloso adalah mungkin.

“Sebagai contoh, jika pengadilan Nueva Ecija aturan bahwa Mary Jane memang korban dan bahwa kewajiban adalah dengan sindikat yang memangsa, lalu Mary Jane bisa dirilis di mata hukum Indonesia, karena dia hanyalah korban dan sebenarnya tidak bersalah dari pelanggaran dikenakan terhadap dirinya, “kata Aguirre.

Veloso telah mengklaim Sergio dan Lacanilao telah ditipu ke dalam membawa barang-barang narkoba sarat ke Indonesia pada 2010, ketika pemerintah Indonesia menangkap dia setelah tiba di bandara Yogyakarta.

Kematian hukuman atas Veloso telah ditahan pada 29 April 2015, setelah pemerintah Filipina mengajukan banding kasusnya kepada Presiden Widodo dan setelah menyerah Sergio kepada polisi provinsi Nueva Ecija.

Seperti diperintahkan oleh RTC Hakim Anarica Castillo-Reyes, konsulat Filipina di Indonesia diatur untuk mendapatkan Veloso untuk bersaksi pada skala besar kasus perekrutan ilegal terhadap Sergio dan Lacanilao.

Departemen Kehakiman percaya pertemuan baru-baru Presiden Duterte dengan Widodo telah membantu menjernihkan kasus untuk Veloso, baik sebagai kepala negara telah bersumpah menghormati proses hukum masing-masing.

Aguirre dikutip misalnya rilis terbaru dari 177 orang Indonesia, yang berhenti di Bandara Internasional Ninoy Aguino 19 Agustus lalu untuk kepemilikan ilegal paspor Filipina.

“Presiden memerintahkan pembebasan mereka karena mereka hanya korban sindikat Filipina terlibat dalam penerbitan ilegal paspor,” kata Aguirre. “Itu adalah tindakan goodwill pada bagian kami.”

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar