JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan Morgan Stanley Capital International (MSCI) memberikan apresiasi atas keberhasilan Indonesia dalam menuntaskan agenda reformasi integritas pasar modal per Maret lalu.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa pertemuan dengan pihak MSCI pekan lalu menjadi ajang konfirmasi progres kebijakan pasar modal Indonesia. Agenda reformasi ini mencakup transparansi kepemilikan saham di atas 1 persen, pengungkapan saham dengan konsentrasi tinggi, perluasan klasifikasi investor, hingga penyesuaian aturan *free float*.
Menurut Hasan, keterbukaan informasi ini berpotensi memengaruhi perubahan bobot atau komposisi saham dalam indeks MSCI maupun FTSE Russell. Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya telah mengidentifikasi sembilan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Dua di antaranya, yakni PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy (BREN), saat ini tercatat dalam indeks MSCI.
Kendati demikian, Hasan menilai pelaku pasar telah merespons kebijakan ini dengan matang. Ia melihat investor sudah mengantisipasi potensi perubahan bobot tersebut jauh sebelum keputusan resmi dikeluarkan.
“Pasar sudah mengantisipasi lebih awal. Beberapa saham yang berpotensi berubah sudah direspons lebih dulu oleh investor. Ini menandakan informasi dari bursa telah dipahami dengan baik,” ujar Hasan di Bursa Efek Indonesia, Senin (27/4/2026).
Saat ini, investor tengah menanti siklus tinjauan periodik MSCI. Valuasi terhadap indeks saham Indonesia dijadwalkan akan ditetapkan pada 12 Mei mendatang. Sementara itu, keputusan mengenai pengklasifikasian pasar saham Indonesia akan diumumkan pada Juni mendatang.









