LONDON – Medan perang di masa depan berpotensi didominasi oleh pasukan robot dibandingkan tentara manusia. Prediksi ini mencuat seiring dengan pesatnya pengembangan teknologi militer oleh UFORCE, perusahaan rintisan pertahanan yang kini menjadi pemain kunci dalam konflik di Ukraina.
UFORCE, yang kini telah mencapai status “unicorn” dengan valuasi lebih dari US$1 miliar atau sekitar Rp17,5 triliun, beroperasi secara tertutup dari kantor mereka di London untuk menghindari ancaman sabotase. Perusahaan ini mengklaim telah menjalankan lebih dari 150.000 misi tempur sukses sejak invasi Rusia dimulai pada 2022.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, sempat menyoroti keterlibatan teknologi ini dalam sebuah video yang memperlihatkan pertempuran robot. Meskipun pihak militer Ukraina tidak merinci operasi tersebut, UFORCE mengonfirmasi bahwa unit drone udara, darat, dan laut buatan mereka telah diterjunkan langsung di medan tempur.
Para analis militer menilai perang di Ukraina telah mempercepat inovasi teknologi secara drastis. Fenomena “robot melawan robot” diprediksi akan menjadi standar baru dalam konflik bersenjata global di masa depan.
Saat ini, UFORCE bersama perusahaan teknologi pertahanan lainnya seperti Anduril, mulai menantang dominasi perusahaan militer tradisional seperti Boeing dan Lockheed Martin. Fokus industri kini bergeser pada integrasi kecerdasan buatan (AI) ke dalam sistem senjata.
Meski sebagian besar drone saat ini masih dikendalikan manusia dari jarak jauh, perangkat lunak AI mulai digunakan untuk membantu penargetan hingga penyelesaian fase akhir serangan secara otonom. Amerika Serikat, melalui pernyataan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, bahkan secara terbuka menyatakan ambisinya untuk menjadi kekuatan tempur yang mengutamakan AI, diikuti oleh langkah serupa dari China.
Transformasi ini menuai perdebatan sengit terkait etika dan akuntabilitas. Kelompok advokasi hak asasi manusia, seperti Amnesty International, memperingatkan adanya risiko besar saat keputusan hidup dan mati didelegasikan kepada mesin.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, pelaku industri pertahanan berargumen bahwa teknologi AI justru mampu meminimalisir kesalahan manusia di medan laga. Mereka menekankan bahwa sistem saat ini tetap mempertahankan “manusia dalam rantai keputusan” untuk memastikan kendali penuh atas penggunaan kekuatan senjata.




