JAKARTA – Menyongsong usia ke-70 tahun, PT Astra International Tbk (ASII) melakukan reposisi strategi besar-besaran untuk memperkuat pertumbuhan dan menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan. Perusahaan melakukan evaluasi menyeluruh atas portofolio bisnisnya agar lebih fokus pada sektor-sektor dengan kinerja solid.
Keputusan strategis ini diumumkan perseroan pada Senin (25/5/2026). Fokus utama Astra ke depan akan tertuju pada tiga pilar bisnis inti, yakni otomotif, jasa keuangan, serta alat berat dan solusi pertambangan. Ketiga sektor ini tercatat berkontribusi hingga 90% terhadap laba perusahaan.
Presiden Direktur Astra, Rudy, menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk merespons dinamika pasar yang terus berubah. Astra akan memperketat disiplin alokasi modal guna menghasilkan pertumbuhan laba yang lebih optimal dan berkelanjutan.
“Kami melakukan evaluasi bisnis dengan mempertimbangkan tantangan pasar, posisi strategis, potensi laba masa depan, serta imbal hasil investasi,” ujar Rudy dalam keterangan resminya.
Untuk lini bisnis di luar tiga pilar utama tersebut, Astra akan menjalankan pengembangan yang lebih terarah dan selektif. Perusahaan juga berkomitmen membangun kemitraan strategis guna melengkapi kapabilitas serta mendukung kebutuhan pertumbuhan jangka panjang.
Selain penajaman fokus bisnis, Astra juga memperkuat komitmen kepada pemegang saham melalui disiplin belanja modal, pembayaran dividen yang konsisten, dan program pembelian kembali saham (share buyback). Astra berencana mengalokasikan dana sekitar Rp 8 triliun untuk program *buyback* dalam jangka waktu 12 bulan ke depan.
Kinerja keuangan Astra dalam satu dekade terakhir menunjukkan tren positif. Selama periode 2015-2025, laba bersih perusahaan tumbuh 126%, dari Rp 15 triliun menjadi Rp 33 triliun. Sejalan dengan itu, pembagian dividen juga meningkat drastis sebesar 245%, dari Rp 113 per saham pada 2015 menjadi Rp 390 per saham pada 2025.
Langkah efisiensi yang diambil Astra dinilai sebagai langkah positif oleh pelaku pasar. Strategi ini diharapkan mampu menekan beban operasional dari lini bisnis yang kinerjanya kurang maksimal, sehingga profitabilitas perusahaan dapat lebih terjaga.
Terkait pergerakan saham ASII, para analis menyarankan investor untuk tetap mencermati perkembangan laporan keuangan perusahaan. Meskipun secara teknikal saham ASII saat ini masih berada dalam fase *downtrend*, beberapa analis merekomendasikan strategi *buy on weakness* atau *trading buy* dengan target harga di kisaran Rp 5.725 hingga Rp 6.400, tergantung pada fluktuasi pasar dan volume beli yang muncul.









