KOTA GAZA – Militer Israel melancarkan serangan udara mematikan yang menewaskan komandan sayap militer Hamas, Mohammed Odeh, di sebuah gedung permukiman di pusat Kota Gaza, Selasa (26/05). Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah pendahulu Odeh tewas dalam operasi serupa.
Serangan yang menghantam Gedung al-Kayali tersebut menewaskan sedikitnya tiga warga Palestina dan melukai puluhan lainnya. Lokasi serangan berada di kawasan pasar tersibuk di Kota Gaza yang saat itu sedang dipadati pengunjung menjelang hari raya Idul Adha.
Pihak keamanan Israel dan Shin Bet menyatakan telah melacak pergerakan Odeh selama berbulan-bulan sebelum memutuskan untuk menyerang tempat persembunyiannya. Selain Odeh, sumber internal Hamas dan kerabat mengonfirmasi bahwa istri dan putra dewasa Odeh juga tewas dalam peristiwa tersebut.
Saksi mata melaporkan sedikitnya lima rudal menghantam tiga lantai teratas bangunan tersebut hampir secara bersamaan. Tim tanggap darurat sempat mengalami kesulitan melakukan evakuasi karena kerusakan parah di lantai atas dan kondisi jalanan yang macet.
Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut Odeh sebagai salah satu tokoh utama di balik serangan 7 Oktober 2023. Odeh dianggap bertanggung jawab atas serangkaian aksi pembunuhan dan penculikan terhadap warga serta tentara Israel.
Kematian Odeh menyusul tewasnya Izz ad-Din al-Haddad, komandan sayap militer Hamas sebelumnya, yang juga gugur dalam serangan udara pada awal Mei. Israel menegaskan akan terus memburu siapa pun yang terlibat dalam peristiwa 7 Oktober.
Meskipun terdapat kesepakatan gencatan senjata sejak Oktober lalu, kekerasan di Jalur Gaza tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 900 orang tewas akibat serangan Israel selama periode gencatan senjata tersebut.
Secara politis, upaya perdamaian yang dipimpin Amerika Serikat masih menemui jalan buntu. Kemajuan rencana tersebut terhambat sejak konflik meluas melibatkan Iran pada Februari lalu. Di sisi lain, Israel secara tegas menolak Hamas untuk kembali memerintah di Gaza, baik secara sipil maupun militer.
Hingga saat ini, operasi militer Israel di Gaza telah menyebabkan kehancuran masif. Data kementerian kesehatan setempat mencatat lebih dari 72.800 warga Palestina tewas, sementara sebagian besar dari 2,1 juta penduduk Gaza terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
Ketegangan di kawasan juga terus meningkat setelah Israel memperluas jangkauan serangannya ke Lebanon. Langkah ini diambil setelah Perdana Menteri Netanyahu berjanji akan meningkatkan tindakan militer terhadap infrastruktur dan pejuang kelompok bersenjata Hizbullah.










