PADANG – Chelsea tengah berada di titik nadir setelah menelan kekalahan telak 3-0 dari Brighton. Hasil minor ini tidak hanya memperpanjang tren negatif The Blues, tetapi juga memicu kemarahan besar dari sang pelatih, Liam Rosenior, yang secara terbuka mengkritik keras performa anak asuhnya.
Dalam wawancara pasca-pertandingan, Rosenior meluapkan kekecewaannya dengan nada tajam. Ia menyebut penampilan timnya sebagai yang terburuk dalam karier kepelatihannya. Menurut Rosenior, performa Chelsea di laga tersebut tidak dapat diterima dari berbagai aspek, mulai dari sikap di lapangan hingga intensitas permainan.
Chelsea sebenarnya sudah berada dalam tekanan sejak awal laga. Gawang mereka harus kebobolan saat pertandingan baru berjalan tiga menit. Situasi semakin parah karena sepanjang laga, tim asuhan Rosenior tidak mampu mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran, sesuatu yang sangat janggal bagi klub sebesar Chelsea.
Statistik mencatat rekor kelam bagi Chelsea. Kekalahan dari Brighton menjadi kekalahan kelima beruntun di liga tanpa mencetak gol. Ini merupakan rekor terburuk klub sejak 1912 sekaligus catatan kekalahan beruntun terpanjang di era Premier League sejak 1993.
Rosenior menyoroti kurangnya mentalitas dan tekad di dalam skuadnya. Ia merasa hanya segelintir pemain yang menunjukkan semangat juang yang layak. Ia menegaskan bahwa hal ini harus segera berubah secara drastis, dimulai dari laga semifinal Piala FA melawan Leeds United mendatang.
Secara blak-blakan, Rosenior mengaku merasa sakit hati dan mati rasa melihat penampilan anak asuhnya. Ia bahkan mempertanyakan profesionalisme para pemain, menekankan bahwa performa tersebut sama sekali tidak mencerminkan identitas klub.
Di sisi lain, bek Chelsea, Trevoh Chalobah, memberikan narasi yang berseberangan dengan sang pelatih. Chalobah bersikeras bahwa seluruh pemain telah bekerja keras dan memberikan yang terbaik di lapangan. Menurutnya, kekalahan tersebut murni karena perbedaan kualitas permainan, bukan karena kurangnya usaha atau dedikasi pemain.
Perbedaan pandangan yang mencolok antara pelatih dan pemain ini memunculkan kekhawatiran baru. Banyak pihak kini mempertanyakan apakah masalah internal Chelsea hanya sebatas performa teknis di lapangan, atau sudah menyentuh krisis kepercayaan dan komunikasi di dalam ruang ganti.










