Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi mencopot Luky Alfirman dari jabatannya sebagai Direktur Jenderal (Dirjen) Anggaran Kementerian Keuangan. Selain Luky, Menteri Purbaya juga melakukan perombakan dengan mencopot Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal, Febrio Nathan Kacaribu.

Langkah ini diambil dengan menunjuk pelaksana harian (Plh.) untuk mengisi kekosongan jabatan tersebut agar roda organisasi tetap berjalan. Penunjukan Plh. telah efektif sejak Selasa (21/4/2026) sore.

Purbaya menyatakan bahwa saat ini pihaknya tengah memproses penetapan pejabat definitif untuk posisi-posisi tersebut. Rencananya, nama-nama calon pejabat baru akan diajukan kepada Presiden Prabowo Subianto pada awal hingga pertengahan Mei mendatang.

“Sudah ada Plh. sekarang, sejak Selasa sore sudah aktif. Nanti akan sekaligus diajukan ke Presiden pada awal atau pertengahan Mei,” ujar Purbaya di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Selain dua posisi tersebut, jabatan Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan saat ini juga diisi oleh Pelaksana Tugas (Plt.), yakni Herman Saheruddin.

Rekam Jejak Luky Alfirman

Luky Alfirman merupakan pejabat karier yang telah mengabdi di Kementerian Keuangan selama lebih dari 25 tahun, terhitung sejak 1 Maret 1995 di Direktorat Jenderal Pajak. Lulusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) dan peraih gelar PhD in Economics dari University of Colorado ini memiliki pengalaman luas dalam pengelolaan fiskal negara.

Sebelum menjabat sebagai Dirjen Anggaran pada Mei 2025, ia pernah menduduki sejumlah posisi strategis, di antaranya Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, serta Dirjen Perimbangan Keuangan. Selain kiprahnya di kementerian, Luky juga sempat menjabat sebagai Dewan Komisaris Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Komisaris Bank Mandiri.

Profil Harta Kekayaan

Berdasarkan data LHKPN yang dilaporkan pada 27 Februari 2026, Luky Alfirman tercatat memiliki total harta kekayaan mencapai Rp52,8 miliar. Kekayaan tersebut tidak menyertakan utang.

Komponen terbesar harta milik pria kelahiran Bandung tahun 1970 ini terdiri dari kas dan setara kas sebesar Rp23,09 miliar, surat berharga senilai Rp15,03 miliar, serta aset tanah dan bangunan dengan total nilai Rp13 miliar. Selain itu, ia juga memiliki alat transportasi berupa empat unit mobil dengan nilai total Rp550 juta, harta bergerak lainnya Rp205 juta, serta harta lainnya senilai Rp938,6 juta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *