JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang signifikan dalam dua hari terakhir menyusul pengumuman pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai badan usaha tunggal untuk ekspor tiga komoditas strategis. Pada perdagangan Kamis (21/5), IHSG anjlok 174,14 poin atau 2,76 persen ke level 6.144,359, menyusul pelemahan serupa pada Rabu (20/5) sebesar 0,82 persen.

Purbaya Yudhi Sadewa, yang saat itu menjabat di Kementerian Keuangan, menilai pelemahan indeks dipicu oleh ketidakpastian investor terhadap mekanisme baru tersebut. Menurutnya, pasar cenderung bersikap defensif saat menghadapi kebijakan yang belum dipahami sepenuhnya.

Namun, Purbaya menegaskan bahwa pembentukan PT DSI bertujuan untuk memberantas praktik *under invoicing* dan *transfer pricing* yang selama ini kerap dilakukan oknum eksportir. Dengan menghilangkan praktik ilegal tersebut, pendapatan perusahaan emiten diproyeksi akan meningkat drastis.

“Mungkin investor belum paham dampak sebenarnya. Jika mereka sudah mengerti, pasar seharusnya akan kembali menguat. Keuntungan perusahaan yang melantai di bursa seharusnya bisa naik dua kali lipat karena penjualan kini mencerminkan nilai yang murni,” jelas Purbaya di kantor Kemenko Perekonomian, Kamis (21/5).

Purbaya menjamin bahwa langkah ini akan meningkatkan valuasi emiten di bursa saham secara signifikan seiring dengan transparansi keuangan perusahaan.

Senada dengan hal tersebut, Chief of Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, optimistis kondisi pasar akan berangsur pulih dalam waktu dekat. Pihaknya saat ini tengah menggencarkan sosialisasi kepada para pelaku usaha untuk memberikan kepastian mengenai dampak kebijakan ini.

“Pasar memerlukan kepastian. Insyaallah hasilnya akan baik. Kami optimis kondisi ini akan segera stabil,” ujar Pandu.

Berdasarkan dokumen Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU), PT DSI resmi dibentuk dengan komposisi pemegang saham yang terdiri dari PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Danantara Mitra Sinergi. Saat ini, kebijakan ekspor melalui badan usaha tunggal tersebut difokuskan pada tiga komoditas utama, yakni minyak kelapa sawit (*crude palm oil*/CPO), batu bara, serta produk olahan besi *ferro alloy*.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *