TANGERANG – Sebanyak sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla akhirnya tiba di tanah air pada Ahad, 24 Mei 2026. Mereka mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, setelah sempat ditahan oleh militer Israel saat berupaya menembus blokade di perairan Gaza, Palestina.

Kepulangan para relawan ini disambut hangat oleh keluarga dan masyarakat. Di balik kebebasan tersebut, para aktivis membawa kesaksian pilu mengenai perlakuan tidak manusiawi yang mereka terima selama masa penahanan di kapal militer Israel.

Aktivis kemanusiaan Hendro Prasetyo mengungkapkan, ia dan ratusan relawan lainnya melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk protes sekaligus kewaspadaan terhadap asupan yang diberikan pihak Israel. Selama tiga hingga lima hari, mereka menolak roti dan air minum yang disuplai oleh pihak militer.

“Prinsip kami, segala yang mereka berikan adalah penderitaan. Kami tidak tahu apakah makanan itu mengandung racun atau tidak,” ujar Hendro saat ditemui di Bandara Soekarno-Hatta.

Hendro mengaku kondisi tersebut menyebabkan para relawan mengalami dehidrasi berat dan kelaparan hebat. Bahkan, mereka hanya diberikan air keran dalam satu teko untuk dibagikan kepada 30 orang, dengan jatah konsumsi yang sangat minim, yakni hanya tiga kali teguk per orang.

Pengalaman serupa disampaikan oleh Andre Prasetyo, seorang jurnalis yang turut serta dalam misi tersebut. Ia mengaku terpaksa menjalani mogok makan selama tiga hari sebelum akhirnya dipindahkan ke wilayah Asdod.

Selain pembatasan konsumsi, Andre membeberkan adanya tindak kekerasan fisik selama masa penahanan. Ia menyebut rekan sesama relawan asal Eropa sempat menjadi sasaran tembak peluru karet. Selain itu, pihak militer juga kerap melakukan intimidasi dengan membunyikan suara ledakan untuk membangunkan para tawanan.

Bukti kekerasan fisik tersebut terlihat jelas pada tubuh Andre, di mana bekas luka memar masih membekas di bagian tangannya akibat ikatan kabel *ties* yang dipasang secara paksa oleh personel militer Israel.

Meski mengalami trauma fisik dan psikis, Andre menegaskan bahwa penderitaan yang ia alami tidak sebanding dengan kondisi rakyat Palestina. Ia pun menyerukan agar dukungan terhadap kemerdekaan Palestina terus digelorakan dan meminta pemerintah Indonesia untuk lebih mengintensifkan upaya diplomasi internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *