BANDAR ABBAS – Ketegangan di kawasan Selat Hormuz kembali memanas setelah Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memaksa sebuah kapal tanker milik Amerika Serikat untuk berbalik arah. Insiden ini dipicu oleh tindakan kapal tersebut yang mencoba melintas dengan sistem radar dalam kondisi mati.
Berdasarkan laporan kantor berita Tasnim, pasukan IRGC merespons pergerakan kapal tersebut dengan cepat. Mereka sempat melepaskan tembakan peringatan yang memaksa kapal tanker itu mundur dari jalur tersebut. Beruntung, insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan material.
Aksi ini diduga berkaitan dengan ledakan yang sempat terdengar di dekat kota pelabuhan Bandar Abbas. Media setempat melaporkan bahwa sistem pertahanan udara Iran sempat diaktifkan menyusul insiden tersebut.
Di sisi lain, seorang pejabat Amerika Serikat mengonfirmasi kepada kantor berita Anadolu bahwa pihak AS telah melakukan serangan udara sebagai bentuk pertahanan. Serangan tersebut berhasil menembak jatuh empat unit drone serang satu-arah milik Iran yang dianggap mengancam keamanan di sekitar Selat Hormuz.
“Pasukan AS juga menghancurkan stasiun kendali darat Iran di Bandar Abbas yang bersiap meluncurkan drone kelima,” ujar pejabat yang enggan disebutkan namanya tersebut, Rabu (27/5).
Pihak AS menegaskan bahwa tindakan militer tersebut bersifat terukur dan defensif guna menjaga stabilitas gencatan senjata yang berlaku.
Situasi di kawasan Teluk memang terus memanas sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari lalu. Sebagai balasan, Teheran sempat menargetkan sejumlah titik di Israel serta sekutu AS di wilayah Teluk, sembari mengancam akan menutup akses Selat Hormuz.
Adapun gencatan senjata di wilayah tersebut telah berlaku sejak 8 April lalu melalui mediasi Pakistan, dan kini telah diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden AS Donald Trump.










