JAKARTA – Perum Bulog kini telah menetapkan lokasi pembangunan infrastruktur pascapanen di 88 titik dari total target 100 gudang yang akan tersebar di seluruh Indonesia. Pembangunan fasilitas ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional di berbagai daerah.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyampaikan bahwa progres pemilihan lokasi tersebut telah mencapai tahap *clear and clean*. Pihaknya kini hanya menyisakan 12 kabupaten atau kota yang masih dalam proses finalisasi penentuan lokasi.
“Sebanyak 88 titik sudah *clear and clean*, tinggal 12 kabupaten/kota lagi,” ujar Rizal di kantor Kementerian Koordinator Pangan, Jakarta, Senin (20/4/2026).
Rizal menjelaskan, spesifikasi pembangunan gudang akan disesuaikan dengan tipologi wilayah dan komoditas unggulan setempat. Di wilayah sentra produksi seperti Grobogan, Jawa Tengah, Bulog akan melengkapi gudang dengan fasilitas pendukung yang lengkap, mulai dari *dryer* (pengering), *rice milling unit* (RMU), hingga fasilitas pengemasan.
Langkah ini diambil karena kapasitas gudang yang ada di Grobogan saat ini sudah penuh. Sebaliknya, di wilayah non-sentra produksi seperti Natuna, Kepulauan Riau, Bulog hanya akan membangun gudang penyimpanan standar tanpa fasilitas pengolahan.
Fokus pembangunan juga menyasar komoditas spesifik daerah. Contohnya di Bima, Nusa Tenggara Barat, Bulog akan membangun gudang khusus jagung yang dilengkapi dengan fasilitas pengering dan mesin pemipil. Secara keseluruhan, rencana pembangunan ini mencakup enam unit silo gabah dan enam unit silo jagung.
Mengenai jadwal eksekusi pembangunan, Rizal belum menetapkan tanggal pasti. Pihaknya masih menunggu persetujuan resmi dari Kementerian Koordinator Pangan serta pertimbangan teknis dari Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum.










