SURABAYA – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur mencatat kinerja penjualan eceran di wilayahnya mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 4,2% secara bulanan (*month to month*/MtM) pada Februari 2026. Capaian ini menjadi pemulihan positif setelah sempat mengalami kontraksi sebesar 4,9% pada bulan sebelumnya.

Direktur Eksekutif Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim, menyatakan bahwa peningkatan penjualan eceran ini dipicu oleh faktor musiman, terutama adanya Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

“Peningkatan kinerja ini didorong oleh kenaikan permintaan masyarakat selama periode Imlek, cuti bersama, hingga persiapan Ramadan jelang Idulfitri. Program diskon yang masif dari pelaku usaha juga turut menjadi katalis positif bagi penjualan,” ujar Ibrahim, Senin (20/4/2026).

Kelompok komoditas yang menjadi penyumbang utama pertumbuhan antara lain suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga, sandang, makanan, minuman, dan tembakau, serta barang budaya dan rekreasi.

Secara tahunan (*year on year*/YoY), performa penjualan eceran di Surabaya juga menunjukkan tren penguatan dengan pertumbuhan sebesar 13,2%, meningkat dibandingkan capaian bulan sebelumnya yang berada di angka 10,9%.

Memasuki Maret 2026, BI Jawa Timur memproyeksikan tren positif akan berlanjut dengan estimasi pertumbuhan sebesar 8,4% (MtM). Pertumbuhan ini diprediksi masih didominasi oleh kelompok sandang, makanan dan minuman, bahan bakar kendaraan, serta peralatan informasi dan komunikasi seiring dengan tingginya kebutuhan masyarakat selama bulan suci Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah.

Secara tahunan, Indeks Penjualan Riil (IPR) Maret 2026 diprakirakan menguat hingga 13,6% (YoY).

Di sisi lain, BI Jawa Timur memantau adanya potensi tekanan inflasi dalam tiga bulan ke depan, khususnya pada Mei 2026. Berdasarkan Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH), tekanan harga diprediksi masih akan terasa, meski diperkirakan akan kembali stabil pada Agustus 2026.

Ibrahim pun memberikan catatan kewaspadaan terkait kondisi ekonomi global. Ia menyebut eskalasi konflik di Jazirah Arab menjadi salah satu risiko yang dapat menahan laju pertumbuhan penjualan eceran.

“Ketidakpastian global, khususnya konflik yang memicu kenaikan harga energi dan produk turunannya, berpotensi menekan harga komoditas dan berdampak pada daya beli masyarakat ke depan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *