JAKARTA – Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) masih dibayangi ketidakpastian tinggi akibat sentimen terkait konsentrasi kepemilikan saham.

Pada perdagangan terakhir, tekanan jual membuat saham BREN merosot 9,62% ke level Rp5.400 per saham. Kondisi serupa terjadi pada saham DSSA yang melemah lebih dalam hingga 9,71% menjadi Rp2.510 per saham.

Meskipun MSCI memutuskan untuk tetap mempertahankan kebijakan *freeze* pada tinjauan Mei 2026 sehingga kedua emiten tersebut belum dikeluarkan dari indeks, bayang-bayang isu *high shareholding concentration* (HSC) masih menghantui. Masalah ini diperkirakan terus menjadi faktor penghambat selama perusahaan belum melakukan perbaikan pada porsi saham yang beredar di publik (*free float*).

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyebutkan bahwa meski secara fundamental bisnis kedua perusahaan tergolong solid, volatilitas harga saham tetap menjadi risiko utama dalam jangka pendek.

Risiko ini dipicu oleh struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasi. Berdasarkan data, konsentrasi kepemilikan saham BREN mencapai 97,31%, sementara DSSA menyentuh 95,76%. Kondisi ini menyebabkan jumlah *free float* menjadi sangat terbatas, yang pada akhirnya membuat likuiditas perdagangan saham tersebut sangat rentan terhadap fluktuasi harga yang tajam.

Selain struktur internal, investor juga perlu mencermati potensi keputusan MSCI pada tinjauan berikutnya. Jika isu konsentrasi kepemilikan tidak segera diselesaikan melalui aksi korporasi, potensi keluarnya dana investor pasif (*outflow*) akan terus membayangi pergerakan harga saham tersebut.

Melihat kondisi tersebut, investor disarankan untuk tetap bersikap hati-hati. Langkah *wait and see* dianggap menjadi opsi paling bijak saat ini.

Investor sebaiknya menunggu kepastian langkah strategis dari pemegang saham pengendali terkait upaya peningkatan *free float*. Mengambil posisi terlalu dini di tengah ketidakpastian yang masih berlangsung dinilai memiliki risiko tinggi terhadap volatilitas pasar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *