TEHERAN – Gelombang serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap berbagai titik strategis di Iran pada 28 Februari lalu menyisakan trauma mendalam bagi para pelaut yang terjebak di tengah konflik. Salah satunya adalah Hassan, seorang anak buah kapal (ABK) asal Pakistan yang nyaris kehilangan nyawa saat kapalnya dihantam rudal di perairan Iran.
Saat serangan pecah, Hassan baru saja merampungkan proses pemuatan semen di sebuah pelabuhan di Iran selatan. Ia menggambarkan situasi kala itu mencekam bak adegan film, dengan ledakan beruntun yang menghujani area pelabuhan.
Beberapa hari pascaserangan, kapal yang ditumpangi Hassan nekat berlayar. Namun, takdir berkata lain; rudal menghantam kapal tersebut hingga tenggelam. Hassan dan lima rekannya terombang-ambing di laut lepas selama hampir 24 jam hanya dengan berpegangan pada jaket pelampung dan pipa yang mengapung.
“Airnya sangat dingin dan bergelombang. Kami sempat pasrah dan mengira akan tenggelam tanpa ada seorang pun yang tahu,” kenang pemuda berusia 22 tahun itu. Beruntung, sebuah kapal Iran yang melintas berhasil menyelamatkan mereka.
Hassan merupakan satu dari sekitar 20.000 pelaut yang terjebak di Teluk setelah Iran memblokir Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan tersebut. Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengecam keras aksi yang menargetkan kapal-kapal komersial ini dan mendesak segera dilakukan evakuasi.
Meski gencatan senjata kini telah disepakati, Hassan merasa hal itu tidak memberikan dampak signifikan, terutama karena blokade pelabuhan oleh AS masih berlangsung. Ia pun harus pulang ke Pakistan melalui jalur darat yang sangat berbahaya dan penuh pemeriksaan ketat, bahkan ia sempat kekurangan perbekalan makanan selama perjalanan 24 jam tersebut.
Nasib nahas menimpa rekan sejawatnya, Yasir Khan. Pelaut asal Pakistan itu tewas dalam serangan rudal di pelabuhan yang sama pada 24 Maret lalu. Yasir, yang baru pertama kali berlayar ke Iran pada September tahun lalu, tewas saat tengah tertidur di kapal tunda tempatnya bekerja.
Kematian Yasir meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya di Pulau Manora, Karachi. “Dia punya mimpi besar untuk menopang istri dan anaknya. Kami hanya bisa menunggu jasadnya dipulangkan dengan hati hancur,” ujar Wajid, saudara laki-laki Yasir.
Menurut data IMO, setidaknya 10 pelaut telah dinyatakan tewas dalam serangkaian serangan terhadap kapal komersial sejak konflik meletus. Bagi para pelaut, perang ini bukan sekadar urusan geopolitik, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup dan mata pencaharian mereka.
Hassan kini telah berkumpul kembali dengan keluarganya di Pakistan setelah menempuh perjalanan yang melelahkan. Meski selamat, ia mengaku kehilangan upah lima bulan kerjanya yang belum dibayar. Ia pun menegaskan tidak akan pernah kembali bekerja di wilayah Iran.
“Jika perang harus terjadi, mengapa kapal-kapal harus menjadi target? Kapal ini membawa barang-barang kebutuhan pokok. Tanpa pasokan tersebut, krisis kemanusiaan akan semakin memburuk dan semua orang akan terdampak,” tegasnya.









