BANTUL – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan sebagai langkah mitigasi menghadapi ancaman fenomena cuaca ekstrem El Nino Godzilla. Langkah ini diambil menyusul prediksi musim kemarau tahun 2026 yang diperkirakan bakal lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Kepala BPBD Kabupaten Bantul, Mujahid Amirudin, menyatakan bahwa pihaknya telah menyiagakan personel serta armada distribusi air bersih untuk merespons potensi krisis air di masyarakat.
“Kami telah menyiagakan personel, peralatan, hingga jadwal piket sebagai bentuk antisipasi dini,” ujar Mujahid, Rabu (15/4/2026).
Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan mengenai wilayah di Bantul yang mengalami kekeringan ekstrem. Menurut Mujahid, curah hujan yang masih turun pada bulan April ini membuat kondisi cadangan air di wilayah tersebut masih aman. Krisis air bersih biasanya baru akan muncul pada periode Mei hingga Juni mendatang.
Sebagai pedoman bagi para pemangku kepentingan, Bupati Bantul telah mengeluarkan surat edaran yang mengatur strategi antisipasi dampak El Nino serta prosedur simulasi evakuasi mandiri dalam rangka Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB).
Di sisi lain, pemerintah pusat memastikan cadangan pangan nasional dalam kondisi aman. Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, menjamin stok beras nasional mencukupi untuk menghadapi potensi dampak El Nino Godzilla pada 2026.
Amran menyebutkan, stok beras saat ini mencapai 4,7 juta ton di gudang Bulog, yang merupakan angka tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Selain itu, terdapat tambahan pasokan 12 juta ton di tingkat restoran serta sekitar 11 juta ton padi siap panen (*standing crop*).
“Stok ini mencukupi untuk kebutuhan 10 bulan ke depan. Jadi, jika kekeringan berlangsung selama enam bulan, kondisi pangan kita tetap aman,” tegas Amran.
Sebelumnya, Bappenas juga telah mengimbau pemerintah daerah di seluruh Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan. Deputi Bidang Pembangunan Kewilayahan Bappenas, Medrilzam, menekankan agar setiap daerah tidak hanya fokus pada ketahanan sektor pertanian, tetapi juga menyiapkan strategi pencegahan kebakaran hutan dan lahan serta manajemen krisis air bersih akibat fenomena alam tersebut.








