JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Jumat (29/5), rupiah sempat menyentuh level Rp 17.893 per dolar AS, sebelum akhirnya ditutup menguat tipis 0,20 persen ke posisi Rp 17.880 per dolar AS.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh tingginya ketidakpastian global akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Selain itu, terdapat peningkatan permintaan valuta asing (valas) secara musiman untuk kebutuhan pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen, di saat pasokan dolar AS sedang terbatas.

Menanggapi kondisi tersebut, BI terus memantau pasar selama 24 jam penuh melalui strategi “around the world, around the clock”. Langkah ini dilakukan guna memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga di tengah gejolak pasar keuangan global.

BI mengoptimalkan berbagai instrumen intervensi, mulai dari transaksi *Non-Deliverable Forward* (NDF) di pasar *offshore*, hingga transaksi spot dan *Domestic Non-Deliverable Forward* (DNDF) di pasar domestik. Selain itu, bank sentral secara konsisten melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara terukur.

Tidak hanya intervensi langsung, BI juga memperkuat efektivitas bauran kebijakan moneter dengan menyesuaikan struktur suku bunga instrumen moneter yang lebih pro-market. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik agar aliran modal asing tetap terjaga.

Mulai Juni 2026, BI juga akan memperketat aturan pembelian valas terhadap rupiah tanpa *underlying* (transaksi spekulatif) dengan menetapkan ambang batas atau *threshold* tunai sebesar USD 25.000 per pelaku per bulan.

“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait untuk mendukung stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar, termasuk memperketat pengawasan terhadap bank dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dolar AS dalam jumlah tinggi,” ujar Ramdan.

Ke depan, BI akan terus mencermati dinamika pasar keuangan global maupun domestik. Langkah-langkah antisipatif akan terus diambil secara konsisten untuk menjaga ketahanan eksternal perekonomian nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *