JAKARTA – Nilai tukar rupiah mengawali pekan ini dengan catatan positif. Pada penutupan perdagangan Senin (1/6/2026), mata uang Garuda menguat 0,43% ke level Rp17.805 per dolar Amerika Serikat (AS), setelah sebelumnya berada di posisi Rp17.881 per dolar AS pada akhir pekan lalu.

Penguatan ini dinilai sebagai koreksi teknikal setelah rupiah mengalami tekanan jual yang cukup signifikan. Para analis menyebut kondisi pasar sempat berada pada fase *oversold* sehingga memicu pembalikan arah meski belum ada sentimen fundamental yang sangat kuat.

Selain faktor teknikal, sentimen positif juga datang dari penurunan harga minyak mentah dunia. Stabilitas harga komoditas energi ini dianggap krusial karena dapat meringankan beban neraca perdagangan serta menekan biaya impor energi nasional.

Di sisi lain, investor global saat ini masih bersikap *wait and see* terhadap perkembangan negosiasi gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih menjadi fokus utama yang memengaruhi pergerakan aset keuangan global.

Dari dalam negeri, kebijakan baru mengenai Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan sistem ekspor satu pintu yang mulai berlaku efektif per 1 Juni 2026 turut memberikan sentimen pendukung. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 21/2026 yang diharapkan mampu meningkatkan suplai valuta asing di pasar domestik.

Untuk perdagangan Selasa (2/6/2026), pergerakan rupiah diprediksi masih cenderung terbatas. Pelaku pasar akan kembali mencermati rilis data ekonomi domestik, terutama data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia.

Secara teknikal, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.850 per dolar AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *