JAKARTA — PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) diprediksi tetap mencatatkan pertumbuhan kinerja yang solid sepanjang 2026, meski terdapat penyesuaian target harga saham akibat dinamika risiko pasar.
Analis BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan peringkat beli untuk saham BBCA. Namun, mereka merevisi target harga dari Rp11.400 menjadi Rp10.900 per saham. Penyesuaian ini dilakukan menyusul kenaikan estimasi rata-rata biaya ekuitas (*Cost of Equity*) menjadi 7,0%.
Meski pasar tengah menghadapi sentimen negatif terkait risiko negara (*country risk*) dan arus modal keluar asing, para analis menilai potensi penurunan valuasi saham BBCA sudah cukup terbatas.
Pada kuartal I/2026, emiten perbankan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp14,6 triliun. Capaian tersebut tumbuh 4% secara tahunan (*year-on-year*) dan telah memenuhi 24% dari target tahun penuh 2026.
Walaupun margin bunga bersih (*net interest margin*/NIM) tercatat menyusut ke level 5,7%, kinerja laba BBCA tetap kuat berkat dorongan *fee-based income* serta efisiensi beban operasional yang turun 9% secara kuartalan.
Manajemen BCA menyebutkan bahwa tekanan pada imbal hasil korporasi mulai mereda. Perusahaan juga membuka peluang melakukan penyesuaian suku bunga kredit atau *repricing loans* dalam waktu dekat.
Terkait penyaluran kredit, BBCA optimistis dapat mencapai target pertumbuhan di kisaran 8% hingga 10% hingga akhir tahun. Optimisme ini didorong oleh perbaikan kualitas aset di segmen korporasi dan komersial, yang mampu menutupi perlambatan di sektor ritel serta UMKM.
Kinerja positif juga terlihat dari penurunan rasio *non-performing loan* (NPL) dan *loan at risk* (LaR) yang masing-masing susut sebesar 5% dan 11% secara tahunan.
Secara taktis, analis memandang saham BBCA sangat menarik untuk dikoleksi dalam tiga bulan ke depan. Valuasi saat ini yang berada di bawah -3 standar deviasi historis dianggap sebagai momentum yang tepat bagi investor untuk melakukan akumulasi.
Selain fundamental yang kuat, minat investor terhadap BBCA juga dipicu oleh rencana pembagian dividen interim tahun ini yang akan disalurkan dalam tiga tahap, yakni pada Juni, September, dan Desember 2026.
*Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Segala bentuk kerugian atau keuntungan yang timbul merupakan tanggung jawab pribadi investor.*










