NEW YORK – Bursa saham Wall Street mencatatkan performa gemilang pada penutupan perdagangan Kamis (28/5/2026). Indeks S&P 500 dan Nasdaq sukses menembus rekor penutupan tertinggi baru, didorong oleh optimisme pasar terkait laporan draf kesepakatan perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari antara Amerika Serikat dan Iran.
Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) menguat tipis 24,69 poin atau 0,05% ke level 50.668,97. Sementara itu, S&P 500 naik 43,27 poin atau 0,58% ke posisi 7.563,63, dan Nasdaq Composite melesat 242,74 poin atau 0,91% menjadi 26.917,47.
Sektor kesehatan menjadi salah satu penopang utama kenaikan S&P 500. Saham Eli Lilly melonjak 4% setelah CVS Health mengumumkan kebijakan untuk kembali memasukkan obat penurun berat badan Zepbound ke dalam cakupan asuransi, serta menambahkan pil obesitas baru, Foundayo, ke dalam daftar produk yang didukung.
Sentimen positif juga menyelimuti sektor teknologi. Saham Microsoft naik 3,5% menyusul laporan bahwa perusahaan tersebut akan segera meluncurkan model pengkodean baru pada pekan depan. Total volume perdagangan di bursa AS tercatat mencapai 19,2 miliar saham, sedikit di atas rata-rata 20 hari terakhir yang sebesar 19,03 miliar saham.
Di sisi geopolitik, kabar mengenai kesepakatan AS-Iran masih bersifat tentatif. Sumber Reuters menyebutkan draf tersebut masih menunggu persetujuan Presiden AS Donald Trump. Di sisi lain, kantor berita Iran, Tasnim, menyatakan bahwa nota kesepahaman tersebut belum dikonfirmasi atau diselesaikan secara resmi.
Para analis menilai investor cenderung mengambil posisi beli sebagai langkah antisipasi terhadap hasil yang lebih baik dari ekspektasi. Namun, kekhawatiran mengenai inflasi yang persisten tetap menjadi tantangan besar. Data terbaru menunjukkan inflasi AS pada April naik ke level tercepat dalam tiga tahun terakhir akibat lonjakan harga energi yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Pertumbuhan ekonomi AS (PDB) pada kuartal pertama juga tercatat melambat dengan revisi ke bawah menjadi 1,6% secara tahunan. Meski demikian, pasar tetap menunjukkan ketangguhan berkat keyakinan investor terhadap potensi kecerdasan buatan (AI) dan kinerja laba perusahaan yang solid.
Jitania Kandhari, Wakil CIO Solusi dan Multi-Aset Morgan Stanley Investment Management, menilai pasar saat ini cenderung mengabaikan risiko geopolitik karena ekonomi global masih cukup resilien. Ia menambahkan bahwa ketidakstabilan global justru berpotensi mempercepat investasi pada sektor keamanan siber, teknologi pertahanan, infrastruktur energi, dan ketahanan rantai pasok yang terkait dengan pengembangan AI.










