JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan hingga menembus level Rp 17.400 pada awal perdagangan Selasa (5/5/2026). Hingga pukul 10.32 WIB, mata uang Garuda berada di posisi Rp 17.428 per dolar AS, atau melemah 0,20% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik global yang mengganggu stabilitas ekonomi internasional. Salah satu pemicunya adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait rencana intervensi pembebasan kapal di Selat Hormuz demi kepentingan kawasan Timur Tengah.

Situasi keamanan global juga kian memanas akibat konflik di Eropa Timur. Ukraina dilaporkan melancarkan serangan drone masif ke wilayah Rusia, yang berdampak pada kerusakan infrastruktur strategis termasuk terbakarnya Pelabuhan Primorsk di Laut Baltik.

Di dalam negeri, tekanan ekonomi mulai membayangi sektor riil. Berdasarkan data S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada April 2026 terkoreksi ke level 49,1. Angka ini mencatatkan kontraksi pertama dalam sembilan bulan terakhir setelah sebelumnya sempat berekspansi selama delapan bulan berturut-turut.

Ibrahim menjelaskan, kontraksi ini dipicu oleh penurunan volume produksi manufaktur yang terjadi dalam dua bulan terakhir. Penurunan tersebut bahkan berlangsung dengan laju yang lebih cepat dibandingkan bulan Maret, sekaligus menjadi yang terparah sejak Mei 2025.

Kendati sektor manufaktur sedang tertekan, fundamental perdagangan Indonesia sebenarnya masih mencatatkan kinerja positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 surplus sebesar US$ 3,32 miliar, angka yang meningkat signifikan dibandingkan posisi Februari 2026 yang sebesar US$ 1,27 miliar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *