NEW YORK – Perusahaan teknologi antariksa milik Elon Musk, SpaceX, resmi akan melantai di bursa saham Nasdaq, Amerika Serikat, pada 12 Juni 2026. Aksi korporasi ini diprediksi menjadi salah satu penawaran umum perdana atau *Initial Public Offering* (IPO) paling fenomenal dalam sejarah pasar modal dunia.

Berdasarkan laporan *Bloomberg*, SpaceX yang menggunakan kode emiten SPCX ini diperkirakan memiliki valuasi mencapai USD 1,75 triliun atau setara Rp 30.917 triliun. Dalam aksi ini, perusahaan membidik target investasi hingga USD 80 miliar atau sekitar Rp 1.414 triliun.

Keterbukaan informasi tersebut membuka catatan keuangan SpaceX yang selama ini tertutup. Perusahaan tercatat menggelontorkan belanja modal lebih dari USD 20 miliar sepanjang 2025, dengan pendapatan mencapai USD 18,7 miliar. Sementara itu, pada tiga bulan pertama tahun 2026, SpaceX membukukan kerugian sebesar USD 4,2 miliar.

Layanan internet satelit Starlink menjadi pilar utama bisnis perusahaan. Segmen konektivitas ini berhasil mencatatkan pendapatan sebesar USD 11,4 miliar pada tahun 2025 dan menyumbang USD 3,2 miliar hanya dalam kurun waktu Januari hingga Maret 2026.

Meski misi utama SpaceX adalah membawa umat manusia ke Mars, fokus perusahaan kini mulai bergeser ke pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan perluasan pusat data di orbit. Strategi ini semakin diperkuat setelah SpaceX mengakuisisi perusahaan AI milik Musk, xAI, pada Februari lalu.

Pengajuan IPO ini sekaligus menjadi sorotan di tengah memanasnya persaingan di industri AI. Prospektus SpaceX menempatkan OpenAI dan Anthropic sebagai kompetitor utama mereka. Ketiga perusahaan tersebut saat ini tengah bersiap untuk melantai di bursa dengan valuasi yang fantastis.

Aksi korporasi ini juga berpotensi mendongkrak kekayaan Elon Musk secara signifikan. Saat ini, Musk memiliki kekayaan bersih mencapai USD 807 miliar dan diprediksi semakin dekat menuju status triliuner setelah IPO SpaceX terealisasi.

Kehadiran data keuangan SpaceX ini muncul tak lama setelah Musk mengalami kekalahan dalam sengketa hukum melawan OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman. Sebelumnya, juri federal memutuskan bahwa Altman dan OpenAI tidak bersalah atas klaim pelanggaran perjanjian pendirian bisnis yang diajukan oleh Musk.

Dalam pernyataan resminya, SpaceX menegaskan komitmen jangka panjang perusahaan. “Misi kami adalah membangun sistem dan teknologi yang diperlukan untuk membuat kehidupan menjadi multiplanet, memahami sifat asli alam semesta, dan memperluas cahaya kesadaran ke bintang-bintang,” tulis pihak perusahaan dalam dokumen pengajuan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *