SIDOARJO – Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah pusat dan daerah resmi meluncurkan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Nasional di Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (13/5/2026). Inisiatif ini hadir sebagai langkah strategis untuk memperkuat Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dalam menjaga stabilitas harga di tengah tantangan ketahanan pangan yang semakin kompleks.

Program GPIPS dirancang untuk menjawab berbagai persoalan pangan, mulai dari risiko cuaca ekstrem hingga masalah distribusi dan produktivitas nasional. Inisiatif ini selaras dengan agenda pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan, energi, dan finansial.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menegaskan bahwa implementasi GPIPS 2026 berfokus pada strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

“Fokus utama kita adalah penguatan produktivitas dan kelancaran distribusi pangan guna menjaga stabilitas harga serta memperkokoh ketahanan pangan nasional,” ujar Aida.

Peluncuran nasional ini merupakan kelanjutan dari rangkaian kegiatan yang telah dimulai di Sumatra pada Februari lalu. Selanjutnya, program serupa akan menyasar wilayah Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, hingga Sulawesi-Maluku-Papua, dengan pendekatan yang disesuaikan pada karakteristik inflasi masing-masing daerah.

Dalam acara ini, Bank Indonesia memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Sinergi ini mencakup pengembangan kerja sama perdagangan antardaerah, baik intrapulau maupun antarpulau menuju Kalimantan dan Papua, serta penguatan skema pembiayaan sektor pertanian pascapanen.

Agenda tersebut juga dibarengi dengan Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID) untuk merumuskan langkah konkret mengatasi hambatan inflasi di tingkat daerah.

Dalam jangka pendek, kesepakatan difokuskan pada penyediaan sarana prasarana pertanian, regenerasi petani, peningkatan kapasitas SDM, serta perlindungan usaha tani. Sementara itu, untuk jangka menengah dan panjang, pemerintah dan BI akan memprioritaskan perbaikan irigasi, pompanisasi, inovasi korporatisasi pertanian, serta penguatan neraca pangan nasional.

Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa sinergi konsisten antara TPIP dan TPID sejauh ini efektif menjaga stabilitas harga. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) per April 2026 tercatat sebesar 2,42 persen secara *year on year*. Sementara itu, inflasi kelompok *volatile food* berada di angka 3,37 persen, masih berada dalam rentang sasaran 3,0 persen hingga 5,0 persen.

Ke depan, Bank Indonesia bersama pemerintah berkomitmen terus memperkuat mitigasi risiko cuaca ekstrem melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi logistik demi menjamin kesejahteraan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *