JAKARTA – Tragedi kerusuhan Mei 1998 meninggalkan bekas mendalam bagi etnis Tionghoa di Indonesia, namun kini muncul optimisme baru melalui gerakan solidaritas lintas generasi. Di tengah upaya berdamai dengan trauma masa lalu, para penyintas dan generasi muda mulai merajut harapan melalui seni, aktivisme, serta kesadaran kolektif untuk saling menjaga.
Fotografer Juliana Tan, yang saat itu terpaksa meninggalkan Bandung pada usia sembilan tahun, menuangkan memori traumatisnya ke dalam buku foto berjudul *A Kind of Magic*. Karya tersebut menjadi medium baginya untuk kembali terhubung dengan akar identitasnya sekaligus membuka ruang dialog bagi warga Tionghoa lain yang mengalami nasib serupa.
Saat diluncurkan di kawasan Glodok—salah satu titik amuk massa pada 1998—buku ini memantik percakapan hangat antargenerasi. Tidak hanya generasi yang mengalami langsung peristiwa tersebut, anak muda dari generasi Z juga menunjukkan ketertarikan mendalam untuk memahami sejarah kolektif dan pengalaman warga Tionghoa di Indonesia.
Bagi sebagian warga, trauma 1998 masih mewujud dalam sikap kewaspadaan tinggi, seperti kecenderungan untuk membatasi pergaulan dalam komunitas sendiri atau membangun sistem keamanan rumah yang ketat. Charlenne, salah satu aktivis muda, menyebut warisan trauma ini membentuk mekanisme pertahanan diri bagi banyak keluarga Tionghoa hingga hari ini.
Namun, pola ini mulai bergeser. Generasi muda Tionghoa kini lebih berani keluar dari “gelembung” eksklusivitas. Mereka terlibat aktif dalam isu sosial, advokasi hak asasi manusia, hingga turun ke jalan dalam berbagai gerakan solidaritas nasional. Partisipasi ini dipandang sebagai upaya untuk menepis stigma dan membuktikan rasa memiliki yang kuat terhadap Tanah Air.
Solidaritas ini semakin nyata saat aksi demonstrasi massal pada Agustus-September 2025. Alih-alih merasa terancam, masyarakat dari berbagai latar belakang etnis justru menunjukkan sikap saling jaga. Fenomena ini membuktikan bahwa keresahan yang dialami warga bukan lagi dipandang sebagai masalah sektarian, melainkan persoalan bersama sebagai sesama warga negara yang terdampak kebijakan politik.
Para pengamat dan penyintas sepakat bahwa kunci pemulihan trauma bukan dengan melupakan sejarah, melainkan dengan merawat ingatan sebagai bahan pembelajaran. Pengakuan negara atas peristiwa kelam tersebut tetap menjadi tuntutan penting, namun inisiatif warga untuk membangun welas asih lintas etnis menjadi fondasi baru dalam menciptakan rasa aman yang lebih inklusif.
Sejarah panjang diskriminasi yang dimulai sejak era kolonial hingga Orde Baru memang sempat memutus jejak pengetahuan dan memicu segregasi. Namun, dengan tumbuhnya kesadaran akan nasib yang serupa di tengah ketidakadilan politik, warga kini lebih memahami bahwa upaya memecah belah lewat isu rasial hanyalah alat untuk melanggengkan kekuasaan.
Kini, narasi kepahitan mulai bertransformasi menjadi semangat kolektif. Ruang-ruang aman terus diciptakan, di mana rasa curiga digantikan oleh kepercayaan. Langkah-langkah kecil untuk saling melindungi inilah yang diharapkan dapat memutus rantai trauma masa lalu dan mempererat kohesi sosial di Indonesia ke depan.










