NEW YORK – Minat investor global terhadap aset *private market* (pasar privat) diprediksi terus menguat sepanjang 2026. Tren ini didorong oleh kebutuhan diversifikasi portofolio serta masifnya pengembangan teknologi *artificial intelligence* (AI) yang mengubah peta pembiayaan korporasi dunia.
Laporan JPMorgan Alternative Investments Outlook 2026 mencatat, total aset kelolaan *private market* secara global kini telah menembus angka US$ 20 triliun.
Pertumbuhan signifikan ini dipicu oleh pergeseran struktural pasar modal. Saat ini, banyak perusahaan memilih bertahan lebih lama sebagai entitas privat dan mengandalkan pendanaan melalui *venture capital, growth equity*, hingga *private equity buyout*. Perubahan ini memberikan keuntungan bagi investor karena mereka dapat masuk lebih awal ke dalam siklus pertumbuhan perusahaan sebelum melantai di bursa saham.
Teknologi AI menjadi katalis utama dalam tren ini. Seiring transisi AI dari tahap uji coba menuju implementasi skala besar, kebutuhan pendanaan untuk infrastruktur digital—seperti pusat data (*data center*) dan energi pendukung—meningkat tajam. Belanja besar dari perusahaan *hyperscaler* global pun kini lebih banyak terserap ke pasar privat dibandingkan pasar saham publik.
JPMorgan menyoroti bahwa ketergantungan pasar saham pada segelintir raksasa teknologi, seperti kelompok “Magnificent 7” di indeks S&P 500, menciptakan risiko konsentrasi yang tinggi. Investor yang khawatir akan valuasi mahal di pasar publik kini melirik pasar privat, khususnya segmen perusahaan skala kecil dan menengah, karena dinilai menawarkan valuasi yang lebih menarik.
Meski demikian, JPMorgan mengakui adanya kekhawatiran terkait potensi gelembung aset dan risiko valuasi yang berlebihan di pasar privat. Namun, mereka menegaskan bahwa fenomena ini adalah bagian dari perubahan struktural sistem pembiayaan global, bukan sekadar siklus sementara.
Pada segmen *private credit*, instrumen ini diproyeksikan tetap menawarkan imbal hasil lebih kompetitif dibandingkan obligasi publik. *Senior secured direct lending* di Amerika Serikat, misalnya, masih mencatatkan *yield* sekitar 200 hingga 300 basis poin di atas instrumen utang publik. JPMorgan menilai risiko gagal bayar yang sempat terjadi pada 2025 bersifat spesifik pada emiten tertentu dan tidak mencerminkan risiko sistemik.
Selain itu, sektor *private equity* diperkirakan kembali bangkit pada 2026 seiring ekspektasi penurunan suku bunga global yang akan memicu aksi merger, akuisisi, dan penawaran saham perdana (*IPO*). Dalam satu dekade terakhir, indeks *private equity* global terbukti mampu mencetak *alpha* sekitar 500 basis poin di atas pasar saham publik.
Kawasan Asia Pasifik juga diprediksi menjadi motor pertumbuhan baru bagi *private equity*. Di sisi lain, instrumen *hedge fund* tetap diminati sebagai pelindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik dan volatilitas kebijakan bank sentral dunia. Secara keseluruhan, integrasi AI dan pergeseran struktur pembiayaan menjadikan pasar privat sebagai primadona investasi sepanjang tahun 2026.










