NEW DELHI – Pemerintah India mengambil langkah drastis untuk menyelamatkan ekonomi negara di tengah gejolak perang antara AS-Israel dengan Iran. Perdana Menteri Narendra Modi secara resmi mendesak seluruh rakyat India untuk berhenti membeli emas selama satu tahun penuh guna menekan pengeluaran devisa negara yang kian tertekan.
Imbauan tersebut disampaikan Modi sebagai wujud “patriotisme ekonomi” dalam menghadapi krisis. Selain meminta masyarakat menunda pembelian perhiasan emas, pemerintah juga menaikkan bea impor emas secara signifikan dari 6% menjadi 15% pada 13 Mei lalu.
Kebijakan ini diambil lantaran beban impor India membengkak akibat lonjakan harga minyak dunia yang mencapai 70%. India, yang bergantung pada impor untuk 85% kebutuhan energinya, kini menghadapi ancaman pelemahan nilai tukar mata uang rupee akibat besarnya permintaan dolar AS untuk membiayai impor minyak dan emas.
Sebagai salah satu konsumen emas terbesar di dunia, langkah India ini memicu kekhawatiran besar di kalangan pelaku industri perhiasan. Bagi para perajin, kebijakan satu tahun penuh tanpa penjualan emas merupakan pukulan telak yang mengancam keberlangsungan usaha mereka, bahkan dinilai lebih berat daripada dampak pandemi Covid-19.
Data India Gold Policy Centre mencatat, India mengimpor 600 hingga 700 ton emas setiap tahun. Emas selama ini menjadi aset budaya dan investasi tradisional masyarakat, namun pemerintah kini mengategorikannya sebagai komoditas non-esensial yang menguras cadangan devisa.
Selain pembatasan emas, Modi turut menginstruksikan masyarakat untuk melakukan penghematan konsumsi energi secara masif. Ini mencakup ajakan menggunakan transportasi umum, membatasi perjalanan luar negeri yang tidak penting, hingga menekan penggunaan bahan bakar serta pupuk di sektor pertanian.
Langkah India ini dianggap sebagai kebijakan paling ekstrem di dunia dalam merespons kenaikan harga energi global. Sementara negara lain cenderung fokus pada efisiensi energi, India menjadi satu-satunya yang secara terbuka meminta warganya berhenti membeli logam mulia.
Para ekonom menilai, efektivitas imbauan ini masih menjadi perdebatan. Sebagian analis memprediksi penurunan permintaan dari India dapat menekan harga emas dunia akibat ketidakseimbangan pasokan. Namun, pakar lain meragukan dampaknya akan signifikan, mengingat emas sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi tabungan rumah tangga di India.
Di sisi lain, kebijakan ini memicu kritik dari pihak oposisi yang menuding pemerintah hanya melimpahkan beban krisis kepada rakyat. Pemerintah kini berada di bawah tekanan untuk mencari solusi alternatif agar sektor industri perhiasan tetap dapat bertahan di tengah kebijakan pengetatan ekonomi yang ketat.










