Jakarta – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus berlanjut mendorong Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mendesak Bank Indonesia (BI) untuk mengambil langkah tegas. BI disarankan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) mendatang.
Peneliti LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menegaskan langkah tersebut krusial untuk menahan depresiasi rupiah serta menjaga kepercayaan pasar. Menurutnya, optimasi instrumen suku bunga saat ini menjadi kebutuhan mendesak di tengah tingginya tekanan pasar.
Rupiah Melemah 2,69 Persen dalam Sebulan
Data LPEM FEB UI mencatat depresiasi rupiah cukup tajam, yakni melemah 2,69 persen secara bulanan (mtm) dan merosot sekitar 7 persen secara tahunan (yoy). Riefky menjelaskan, meski faktor eksternal turut menekan mata uang negara berkembang, tekanan domestik dinilai memberikan dampak yang lebih signifikan.
Kekhawatiran investor dipicu oleh sejumlah persoalan dalam negeri, mulai dari rendahnya rasio pajak, kebijakan fiskal yang terbebani program populis, hingga potensi *contingent liability* dari Danantara.
“Ketidakpastian kebijakan, indikasi dominasi negara di berbagai sektor ekonomi, dan tergerusnya independensi bank sentral memicu kekhawatiran terhadap makroekonomi Indonesia, sebagaimana disorot berbagai lembaga pemeringkat global,” ujar Riefky, Selasa (19/5/2026).
Intervensi BI Dinilai Belum Cukup
Sebelumnya, BI sebenarnya telah aktif melakukan intervensi melalui berbagai instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), *Domestic Non-Deliverable Forward* (DNDF), dan *Non-Deliverable Forward* (NDF). Sepanjang 2026, *outstanding* SRBI tercatat meningkat hingga Rp214 triliun untuk menarik aliran modal asing.
Namun, Riefky menilai intervensi tersebut belum mampu mengendalikan pelemahan rupiah secara maksimal. “Pelemahan rupiah saat ini tampaknya sulit dikendalikan hanya dengan mengandalkan instrumen moneter,” ungkapnya.
Cadangan Devisa Terkuras Lebih dari 10 Miliar Dolar AS
Upaya stabilisasi nilai tukar ini juga berdampak signifikan terhadap cadangan devisa negara. Pada April 2026, cadangan devisa tercatat sebesar 146,2 miliar dolar AS, turun 1,95 miliar dolar AS dibandingkan bulan sebelumnya.
Secara kumulatif, BI tercatat telah menggelontorkan lebih dari 10 miliar dolar AS dalam empat bulan terakhir guna menjaga stabilitas mata uang Garuda. Mengingat intervensi tersebut belum menunjukkan hasil yang efektif, kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin dipandang sebagai solusi yang paling rasional untuk meredam tekanan ekonomi saat ini.










