PADANG – Penguatan nilai tukar rupiah agar kembali ke level Rp16.000 per dolar AS dinilai tidak cukup hanya dengan mengandalkan intervensi Bank Indonesia (BI). Diperlukan dukungan kebijakan fiskal yang kuat, arus modal asing yang stabil, peningkatan ekspor, serta penguatan kepercayaan pasar terhadap ekonomi domestik untuk menjaga stabilitas mata uang nasional.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menyebutkan bahwa secara matematis target rerata tahunan di kisaran Rp16.200 hingga Rp16.800 memang masih memungkinkan. Namun, upaya tersebut cukup berat mengingat posisi nilai tukar saat ini sudah berada di atas level Rp17.600.
“Rupiah berpeluang menguat jika tekanan global mereda dan permintaan valas menurun. Namun, untuk stabilitas jangka panjang, diperlukan dukungan yang lebih luas dan komprehensif,” ujar Rizal.
Senada dengan hal tersebut, Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menekankan pentingnya memaksimalkan konversi Devisa Hasil Ekspor (DHE). Menurutnya, jika eksportir mengonversi valas lebih maksimal, tekanan terhadap rupiah dapat berkurang.
Myrdal mencatat bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih dipicu oleh faktor arus keluar modal asing jangka pendek (*hot money outflow*) serta faktor musiman, seperti transfer dividen dan kebutuhan valas untuk ibadah haji, bukan karena fundamental sektor riil.
Ia menambahkan, potensi penambahan devisa masih terbuka lebar melalui sektor komoditas, manufaktur, hilirisasi, hingga pariwisata. Jika kondisi global membaik dan minat risiko investor terhadap pasar negara berkembang meningkat, rupiah berpotensi kembali menguat ke bawah level Rp17.000.
“BI perlu terus memperkuat intervensi moneter karena cadangan devisa kita masih memadai. Langkah ini penting untuk menjaga kepercayaan pasar. Jika ekonomi kita terbukti solid, investor pasti akan kembali,” jelas Myrdal.
Sementara itu, Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI menyatakan keyakinannya bahwa rupiah akan menguat mulai Juli 2026. Perry memproyeksikan tekanan permintaan valas musiman akan mereda setelah periode April hingga Juni berlalu.
BI tetap optimistis bahwa rerata nilai tukar rupiah sepanjang 2026 akan berada dalam rentang asumsi makro APBN, yakni Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS. Saat ini, rerata nilai tukar rupiah secara tahun berjalan (*year to date*) berada di kisaran Rp16.900 per dolar AS.
Sebagai informasi, pada penutupan perdagangan Selasa (19/5), rupiah melemah 38 poin atau 0,22 persen ke level Rp17.706 per dolar AS. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia tercatat berada di posisi Rp17.719 per dolar AS.










