JAKARTA – Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menegaskan bahwa pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai masyarakat desa yang tidak menggunakan dolar Amerika Serikat bertujuan untuk menjaga stabilitas psikologi publik di tengah melemahnya nilai tukar rupiah.

Misbakhun menilai langkah tersebut diambil kepala negara agar masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang memicu kepanikan. Menurutnya, spekulasi berlebihan mengenai pelemahan rupiah berisiko menciptakan ketidakstabilan politik.

“Apa yang disampaikan Pak Presiden adalah upaya menenangkan masyarakat, jangan dibaca terlalu eksplisit. Mengingat masyarakat rentan termakan rumor mengenai fluktuasi mata uang, sikap presiden untuk menenangkan rakyat adalah hal yang wajar,” ujar Misbakhun usai rapat dengan Bank Indonesia di Gedung DPR, Jakarta, Senin, 19 Mei 2026.

Hingga Selasa pagi, 19 Mei 2026, nilai tukar rupiah tercatat masih tertekan di level Rp17.722 per dolar AS. Rupiah diketahui sudah bertahan di level Rp17.000 sejak awal April 2026.

Sebelumnya, Presiden Prabowo menyoroti pelemahan rupiah dalam peluncuran gerai Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu, 16 Mei 2026. Ia menegaskan bahwa pihak yang seharusnya khawatir dengan menguatnya dolar hanyalah mereka yang bepergian ke luar negeri.

“Selama Menteri Keuangan bisa senyum, tidak usah khawatir. Mau dolar berapa pun, masyarakat di desa tidak menggunakan dolar,” ujar Presiden ke-8 RI tersebut.

Menanggapi hal ini, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, sepakat bahwa pernyataan tersebut berfungsi menekan kepanikan psikologis. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pemerintah tidak boleh menyederhanakan masalah hanya dengan narasi tersebut.

Syafruddin menjelaskan, meskipun transaksi di desa tidak menggunakan dolar, masyarakat tetap berada dalam sistem harga nasional yang sangat dipengaruhi oleh nilai tukar tersebut. Dampaknya dirasakan melalui kenaikan biaya produksi dan konsumsi.

“Saat rupiah melemah, biaya impor migas, pupuk, pakan ternak, pestisida, hingga alat pertanian akan naik. Kenaikan harga ini nantinya akan menjalar melalui rantai distribusi hingga ke kios tani dan rumah tangga di desa,” ungkapnya.

Ia menegaskan, masyarakat desa tetap akan menanggung beban ekonomi akibat pelemahan rupiah meski mereka tidak bertransaksi langsung menggunakan mata uang asing tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *