WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim telah membatalkan rencana serangan militer baru terhadap Iran. Keputusan ini diambil setelah adanya permintaan dari sejumlah pemimpin negara Teluk agar proses negosiasi yang sedang berlangsung tetap berjalan.

Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump mengungkapkan bahwa ia telah diyakinkan oleh para pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab untuk menahan diri dari tindakan militer. Trump menyebut bahwa pihak-pihak terkait menjanjikan sebuah kesepakatan yang “sangat dapat diterima” oleh AS, dengan penekanan tegas bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Meski demikian, Trump memberikan peringatan keras. Ia menegaskan bahwa AS siap melancarkan serangan skala penuh dalam waktu singkat jika kesepakatan tersebut gagal dicapai.

Ketegangan antara AS dan Iran memang terus berlanjut. Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik di Iran jika Teheran tidak membuka akses Selat Hormuz. Di sisi lain, komandan militer senior Iran telah memberikan peringatan balasan agar AS tidak melakukan “kesalahan strategis” lebih lanjut.

Kondisi geopolitik ini terjadi di tengah penurunan tingkat popularitas Trump di dalam negeri. Jajak pendapat *New York Times/Siena* yang dirilis Senin (18/05) menunjukkan bahwa 64% responden menolak keputusan untuk berperang dengan Iran. Selain itu, hanya 37% responden yang menyatakan kepuasan terhadap kinerja Trump sebagai presiden.

Situasi keamanan semakin memanas sejak pasukan AS dan Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan berupa drone dan rudal ke wilayah Israel serta sasaran AS di negara-negara Teluk.

Negara-negara Arab di kawasan Teluk dilaporkan sangat mendesak adanya gencatan senjata karena khawatir menjadi target serangan balasan Iran. Iran saat ini masih memiliki persediaan drone dan rudal yang mampu menjangkau bandara, fasilitas petrokimia, hingga instalasi desalinasi air bersih di negara tetangga. Selain itu, posisi tawar Iran yang kuat terletak pada kendali mereka atas Selat Hormuz, jalur yang dilewati 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Di sisi lain, pemerintah Iran melalui juru bicara kementerian luar negeri, Esmail Baghaei, menyatakan bahwa mereka telah memberikan proposal tanggapan melalui perantara Pakistan. Tuntutan Teheran mencakup penghentian perang di semua lini, pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran, jaminan keamanan, kompensasi kerusakan perang, serta pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.

Washington menanggapi proposal tersebut dengan lima syarat, termasuk pembatasan fasilitas nuklir Iran dan tuntutan pemindahan stok uranium yang telah diperkaya tinggi ke AS. Sebelumnya, Trump sempat memberi sinyal kesediaan untuk menerima penangguhan program nuklir Iran selama 20 tahun.

Selama ini, AS dan sekutu Eropanya mencurigai program nuklir Iran sebagai kedok pengembangan senjata, sementara Teheran tetap bersikeras bahwa aktivitas tersebut ditujukan sepenuhnya untuk kepentingan damai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *