CHAGHCHARAN – Ratusan pria memadati alun-alun berdebu di Chaghcharan, ibu kota Provinsi Ghor, Afghanistan, setiap pagi dengan satu harapan kecil: mendapatkan pekerjaan apa pun demi menyambung hidup keluarga mereka. Namun, di tengah krisis ekonomi yang mencekik, peluang untuk memperoleh upah harian sangatlah tipis.
Saat ini, tiga perempat penduduk Afghanistan dilaporkan tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok mereka. Data PBB menunjukkan negara tersebut kini menghadapi pengangguran massal, layanan kesehatan yang lumpuh, dan bantuan kemanusiaan yang hampir terputus total. Kondisi ini menempatkan lebih dari 4,7 juta orang berada di ambang kelaparan massal.
Ghor menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah. Warga setempat mengaku sudah kehilangan harapan, bahkan tak sedikit yang rela melakukan tindakan ekstrem demi bertahan hidup. Juma Khan, seorang ayah berusia 45 tahun, mengaku terpaksa mengemis kepada tetangga hanya untuk membeli tepung karena anak-anaknya sudah berhari-hari menahan lapar.
Dampak dari tingginya angka pengangguran ini memaksa sebagian orang tua mengambil keputusan memilukan. Abdul Rashid Azimi, misalnya, mengaku bersedia menjual putri-putrinya demi mendapatkan uang yang bisa menghidupi anggota keluarga lain selama beberapa tahun ke depan. Kisah serupa dialami Saeed Ahmad, yang harus menjual putrinya kepada seorang kerabat agar ia memiliki dana untuk membiayai operasi usus buntu dan kista hati sang anak.
Pemangkasan bantuan internasional secara masif menjadi faktor utama memburuknya situasi. Amerika Serikat dan sejumlah negara donor besar lainnya telah memutus hampir seluruh bantuan sejak tahun lalu. Data PBB mencatat penurunan bantuan kemanusiaan hingga 70 persen dibandingkan tahun 2025, yang diperparah dengan bencana kekeringan di sebagian besar provinsi.
Pemerintah Taliban menyalahkan rezim sebelumnya atas kehancuran ekonomi ini. Mereka berdalih bahwa selama 20 tahun pendudukan, ekonomi Afghanistan bergantung pada arus dolar AS. Meski begitu, kebijakan internal Taliban, khususnya pembatasan ketat terhadap hak perempuan, dinilai menjadi alasan utama para donor internasional menarik dukungannya.
Krisis ini juga terlihat jelas dari lonjakan angka kematian anak. Di pemakaman lokal, jumlah makam anak-anak dilaporkan jauh lebih banyak dibandingkan makam dewasa. Kondisi serupa terjadi di rumah sakit utama Chaghcharan, di mana unit perawatan bayi baru lahir selalu penuh oleh pasien yang lahir dengan berat badan rendah akibat kurangnya asupan gizi ibu saat hamil.
Rumah sakit pun kini kewalahan karena ketiadaan sumber daya medis dan obat-obatan yang memadai. Banyak keluarga terpaksa membawa pulang bayi mereka yang kritis sebelum sembuh, lantaran tidak sanggup lagi membayar biaya pengobatan. Di tengah ketiadaan bantuan darurat yang memadai, ribuan nyawa di Afghanistan kini harus berjuang bertahan hidup di tengah krisis yang seolah tiada berujung.










