TANGERANG – Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla akhirnya tiba di tanah air setelah sempat disandera oleh militer Israel saat berlayar menuju Gaza. Para relawan yang hendak menyalurkan bantuan bagi rakyat Palestina tersebut mengaku mengalami serangkaian penyiksaan dan tindakan kekerasan selama masa penahanan.

Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Minggu (24/5/2026), para relawan membagikan pengalaman pahit mereka di bawah otoritas Israel. Salah satu relawan mengungkapkan bahwa mereka sempat dijemur di bawah terik matahari selama dua hingga lima jam dalam posisi telungkup. Selama proses tersebut, militer Israel terus memutar musik dengan volume keras dan memberikan bentakan jika ada relawan yang mencoba mengubah posisi.

Akibat perlakuan kasar tersebut, sejumlah relawan mengalami cedera fisik, mulai dari memar di punggung dan kepala, hingga luka akibat diinjak oleh oknum militer. Selain kekerasan fisik, para aktivis juga melaporkan adanya tindakan pelecehan seksual, di mana mereka dipaksa menanggalkan pakaian untuk difoto oleh pihak otoritas Israel.

Tidak hanya disiksa secara fisik, para relawan juga mengalami intimidasi melalui pembatasan asupan makanan dan minuman. Seorang relawan mengaku terpaksa melakukan aksi mogok makan selama tiga hari karena keterbatasan akses logistik sebelum akhirnya dipindahkan ke wilayah Asdod.

Dalam masa penahanan tersebut, para relawan juga mendapat ancaman serius lainnya. Beberapa rekan aktivis asal Eropa bahkan dilaporkan terkena tembakan peluru karet, sementara para relawan lainnya sering dibangunkan secara paksa menggunakan suara ledakan yang memekakkan telinga. Luka memar di bagian tangan para relawan juga terlihat jelas, yang diduga akibat jeratan kabel ties yang dipasang terlalu kencang saat penangkapan.

Meski telah mengalami penderitaan selama misi tersebut, para relawan menegaskan bahwa apa yang mereka rasakan tidak sebanding dengan kondisi rakyat Palestina yang berada di bawah blokade. Mereka pun mendesak pemerintah Indonesia untuk terus memperkuat upaya diplomasi dalam mendukung kemerdekaan Palestina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *