MEKKAH – Jutaan umat Muslim dari berbagai belahan dunia mulai melaksanakan rangkaian ibadah haji di Arab Saudi, meskipun kawasan Timur Tengah tengah dibayangi ketegangan konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Otoritas Arab Saudi mencatat sekitar 1,51 juta jemaah calon haji telah tiba hingga pekan lalu. Angka tersebut menunjukkan peningkatan sebanyak 11.000 jemaah dibandingkan tahun sebelumnya, di tengah kekhawatiran global terkait eskalasi konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Pemerintah Indonesia sendiri telah memberangkatkan jemaah sejak 22 April 2026 lalu dengan total kuota resmi mencapai 221.000 orang. Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, menegaskan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan situasi geopolitik demi menjamin keamanan seluruh jemaah.
“Kami berharap pihak yang berseteru dapat menghormati proses ibadah haji ini sehingga tensi konflik menurun dan umat Islam bisa beribadah dengan tenang,” ujar Mochamad Irfan.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Puji Raharjo, menyatakan bahwa keselamatan jemaah adalah prioritas tertinggi. Pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi risiko guna memastikan perlindungan dan kepastian bagi jemaah di tanah suci.
Sebagai langkah nyata perlindungan, Kementerian Luar Negeri Indonesia telah menginstruksikan agar jalur penerbangan haji tahun ini menghindari wilayah-wilayah konflik. Meskipun situasi kawasan dinamis, jadwal keberangkatan dipastikan tetap berjalan sesuai rencana otoritas Arab Saudi.
Di sisi lain, Pemerintah Arab Saudi memperketat keamanan dengan menyiagakan sistem pertahanan udara di pinggiran kota suci Mekkah. Langkah ini diambil untuk menghadapi segala potensi ancaman udara dan menjamin ketenangan para tamu Allah selama menjalankan ibadah.
Kekhawatiran akan stabilitas kawasan muncul setelah adanya rangkaian serangan rudal dan drone serta serangan udara balasan di beberapa wilayah Timur Tengah dalam beberapa bulan terakhir. Namun, hal ini tidak menyurutkan semangat para jemaah.
Mohammed Chahada, jemaah asal Mesir, mengungkapkan harapannya agar perdamaian segera tercapai. Menurutnya, perang hanya akan membawa kerugian bagi rakyat dan negara di seluruh dunia.
Sementara itu, Jreish Mohammed, jemaah asal Maroko berusia 68 tahun, merasa bersyukur mimpinya menunaikan haji tetap terwujud meski sempat diliputi ketidakpastian akibat gangguan penerbangan dan lonjakan biaya perjalanan.
Selain tantangan keamanan, jemaah haji tahun ini juga harus menghadapi cuaca ekstrem dengan suhu mencapai 45 derajat Celsius. Saat ini, jutaan jemaah tengah melakukan ritual tawaf di Masjidil Haram sebelum bergerak menuju Mina dan bersiap untuk puncak haji di Gunung Arafah.





