ACEH UTARA – Enam bulan setelah bencana banjir dan tanah longsor melanda, Sausan Sania (10) masih berjuang memulihkan diri dari trauma mendalam. Siswi kelas empat SD ini harus kehilangan ibu, kakak laki-laki, dan neneknya yang terseret arus deras saat musibah tersebut menerjang kediamannya di Aceh Utara akhir November lalu.

Meski menyimpan duka yang mendalam, Sausan memilih untuk tetap bangkit. Ia mengisi hari-harinya dengan belajar giat demi mewujudkan cita-citanya menjadi polisi wanita, sembari mencoba membantu ekonomi keluarga melalui berjualan mainan kepada teman-temannya.

“Saat kangen sama Mama, Abang, dan Nenek, aku ajak Bapak ziarah ke makam. Aku bercerita dan berdoa agar mereka tenang dan bahagia di surga,” ujar Sausan saat ditemui di kediamannya.

Ayah Sausan, T. Zaman Huri, menuturkan bahwa malam kejadian itu terasa seperti kiamat kecil. Saat air bah datang, ia sempat terpisah dari keluarganya. Sausan selamat setelah ditemukan di atas pohon pisang, sementara ibu dan anggota keluarga lainnya ditemukan meninggal dunia di lokasi berbeda beberapa hari setelah bencana.

Kondisi serupa dialami ratusan siswa lainnya di berbagai wilayah terdampak. Di SDN 6 Tanah Jambo Aye, para siswa kini bersekolah dengan fasilitas seadanya. Sebagian besar ruang kelas masih penuh lumpur, dan banyak murid terpaksa belajar di lantai karena keterbatasan meja dan kursi.

Tak hanya di Aceh Utara, keterbatasan sarana pendidikan juga terjadi di Kabupaten Bireuen. Puluhan siswa SDN 5 Peusangan Siblah Krueng hingga kini masih harus mengikuti kegiatan belajar mengajar di dalam tenda darurat. Atap sekolah mereka hancur, dan sebagian bangunan tertimbun tanah.

Guru di SDN 5 Peusangan Siblah Krueng, Irnawati, mengaku prihatin dengan kondisi siswanya. Meski keterbatasan fasilitas membuat proses belajar menjadi sangat sulit, para guru tetap berupaya menjaga semangat anak-anak untuk tetap menuntut ilmu.

“Kami belajar dengan fasilitas seadanya. Anak-anak terus bertanya kapan sekolah mereka akan diperbaiki. Kami hanya bisa meminta mereka untuk bersabar,” ungkap Irnawati dengan haru.

Pemerintah Provinsi Aceh melalui Kepala Dinas Pendidikan, Murthalamuddin, mengakui bahwa pemulihan sektor pendidikan pascabencana membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Saat ini, pemerintah daerah tengah fokus menyediakan seragam dan perlengkapan sekolah bagi ribuan siswa terdampak.

Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat, terdapat 4.922 sekolah yang terdampak bencana di Sumatra tahun lalu, yang mengganggu kegiatan belajar bagi lebih dari 700 ribu siswa. Meski pemerintah mengklaim mayoritas sekolah telah kembali beroperasi, kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak siswa yang belajar di ruang kelas darurat maupun tenda karena infrastruktur yang rusak berat.

Pemerintah pusat telah mengalokasikan dana revitalisasi sebesar Rp2,9 triliun untuk memperbaiki ribuan sekolah di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Namun, bagi anak-anak seperti Sausan dan teman-temannya, mereka hanya berharap agar sekolah bisa segera dibangun kembali agar mereka dapat belajar dengan normal dan menata masa depan yang sempat terputus oleh bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *