Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan pertumbuhan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) di Indonesia mengalami perlambatan pada April 2026. Hingga periode tersebut, total uang beredar tercatat mencapai Rp10.253,7 triliun.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa posisi M2 pada April 2026 tumbuh sebesar 9,2 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini menunjukkan perlambatan jika dibandingkan dengan capaian pada Maret 2026 yang tumbuh sebesar 9,7 persen (yoy).
Rincian Komponen M2
Perkembangan M2 pada April 2026 ditopang oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 13,6 persen (yoy) dan uang kuasi sebesar 4,7 persen (yoy).
M1 yang mendominasi 57,9 persen dari total M2 tercatat sebesar Rp5.936,1 triliun. Pertumbuhan komponen ini utamanya dipengaruhi oleh kenaikan giro rupiah sebesar 21,3 persen (yoy), meski melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 26,4 persen (yoy). Sementara itu, tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu turut mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,1 persen (yoy).
Di sisi lain, uang kartal di luar bank umum dan BPR mengalami peningkatan pertumbuhan menjadi 15,7 persen (yoy) dengan nilai Rp1.186,3 triliun, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tumbuh 10,8 persen.
Untuk uang kuasi, yang mencakup 41,5 persen dari M2, tumbuh 4,7 persen (yoy) menjadi Rp4.253,6 triliun. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh melambatnya giro valuta asing (valas) menjadi 0,6 persen (yoy). Adapun simpanan berjangka dan tabungan lainnya masing-masing tumbuh sebesar 4,6 persen dan 17,4 persen (yoy).
Secara sektoral, perkembangan M2 dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat yang tumbuh 38,6 persen (yoy), sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 39,1 persen.
Kredit Tumbuh, DPK Melambat
Di tengah perlambatan uang beredar, penyaluran kredit perbankan justru mencatatkan performa positif. Penyaluran kredit pada April 2026 tumbuh 9,4 persen (yoy) menjadi Rp8.606,6 triliun, meningkat dibandingkan pertumbuhan Maret 2026 yang sebesar 8,9 persen. Aktiva luar negeri bersih pun mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi, yakni 3,7 persen (yoy).
Namun, dari sisi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK), BI mencatat perlambatan dengan nilai total Rp9.567,7 triliun atau tumbuh 9,5 persen (yoy), turun dari capaian bulan sebelumnya sebesar 10,7 persen.
Perlambatan DPK utamanya didorong oleh laju giro yang turun menjadi 15,9 persen (yoy). Sebaliknya, pertumbuhan pada komponen tabungan dan simpanan berjangka justru menunjukkan tren peningkatan masing-masing menjadi 8,9 persen dan 4,6 persen (yoy).










