JAKARTA – PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun 2025, sejalan dengan ekspektasi pasar. Perseroan berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 12,8 triliun, tumbuh 5,2% secara tahunan (*year on year*).
Pertumbuhan pendapatan tersebut diikuti dengan peningkatan profitabilitas yang signifikan. EBITDA perusahaan melonjak 18,3% menjadi Rp 2,8 triliun, sementara laba bersih melesat 22,5% menjadi Rp 1,1 triliun.
Analis menilai kualitas pertumbuhan SILO sangat positif. Kesenjangan yang lebar antara kenaikan pendapatan dan profitabilitas menjadi bukti nyata bahwa efisiensi operasional perseroan membaik, bukan sekadar didorong oleh peningkatan volume.
Peningkatan margin ini didorong oleh strategi klasifikasi rumah sakit yang berhasil mendongkrak *average revenue per user* (ARPU), terutama dari kontribusi pasien non-JKN. Implementasi strategi *Next Generation System* (NGS) melalui diferensiasi layanan *Network Premium* dan *Network Value Seeker* juga dinilai efektif menyeimbangkan antara kenaikan margin dan penetrasi pasar.
Dari sisi ekspansi, SILO kini menerapkan langkah yang lebih selektif dan berbasis pada potensi imbal hasil (*return*). Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mengoptimalkan utilisasi layanan serta meningkatkan kompleksitas medis tanpa harus melakukan penambahan kapasitas secara agresif.
Terkait kebijakan dividen, keputusan perseroan untuk menahan seluruh laba bersih demi kebutuhan investasi dinilai wajar. Langkah ini dipandang sebagai upaya memperkuat fondasi keuangan jangka panjang perusahaan selama arus kas operasional tetap terjaga.
Ke depan, prospek kinerja SILO pada 2026 diperkirakan tetap cerah. Pendapatan diproyeksikan berada di kisaran Rp 13,5 triliun hingga Rp 14 triliun, dengan potensi laba bersih menembus Rp 1,2 triliun. Optimisme ini ditopang oleh kontribusi penuh dari fasilitas baru, seperti Mochtar Riady Center for Advanced Care (MRCAC) di Surabaya serta penguatan layanan di Makassar.
Presiden Direktur Siloam International Hospitals, David Utama, menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan langkah awal dari transformasi strategis perseroan. Visi utama perusahaan tetap fokus pada penyediaan layanan kesehatan berkualitas tinggi yang mudah diakses oleh masyarakat luas.
Meski demikian, analis memiliki pandangan beragam mengenai prospek sahamnya. Beberapa pihak memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp 3.200 per saham karena prospek efisiensi yang kuat, sementara analis lainnya memilih bersikap *wait and see* dengan mencermati tren pergerakan harga saham di pasar.










