JAKARTA – Harga saham emiten sektor komoditas, meliputi batu bara, nikel, dan perkebunan, terus berada dalam tekanan pasar. Pelemahan ini terjadi di tengah ketidakpastian implementasi kebijakan tata kelola ekspor melalui badan ekspor tunggal yang dijadwalkan mulai berlaku pada Juni 2026.
Berdasarkan riset CGS Sekuritas per 26 Mei 2026, harga saham di sektor terkait mencatatkan penurunan signifikan sebesar 12% hingga 29% sejak akhir April 2026. Meskipun sempat menunjukkan pemulihan tipis pada 22 Mei lalu, volatilitas pasar diprediksi akan terus tinggi seiring belum jelasnya detail teknis kebijakan tersebut.
Pasar saat ini telah memasukkan premi risiko yang cukup besar akibat banyaknya variabel yang belum pasti. Kebijakan ini merupakan langkah ambisius pemerintah untuk mengoordinasikan ekspor tiga komoditas utama—batu bara, nikel, dan CPO—yang mencakup sekitar US$ 69 miliar atau seperempat dari total ekspor Indonesia.
Proses implementasi akan dilakukan dalam dua fase. Pada tahap pertama, 1 Juni hingga 31 Agustus 2026, perusahaan tetap menggunakan izin ekspor masing-masing, namun dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) wajib mencantumkan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai eksportir yang ditunjuk. Selanjutnya, fase kedua dijadwalkan mulai 1 September 2026, dengan kemungkinan masa transisi yang diperpanjang hingga akhir tahun.
Investor saat ini diminta mencermati skema harga, besaran margin, serta potensi kendala dalam renegosiasi kontrak dan sistem pembayaran. Tantangan teknis juga muncul dalam klasifikasi produk nikel. Terdapat kesulitan dalam memisahkan feronikel (FeNi) dan nikel pig iron (NPI) karena keduanya berbagi kode Sistem Harmonisasi (HS) yang sama, yakni 7202.60.00.
Hingga saat ini, pemerintah melalui Kemenko Perekonomian tetap memasukkan FeNi dalam skema ekspor tunggal, namun mengecualikan NPI. Hal ini memerlukan pengaturan tambahan di tingkat bea cukai agar tidak menghambat arus ekspor.
Meskipun secara teoretis pembentukan penjual tunggal melalui DSI dapat memperkuat daya tawar Indonesia di pasar global, keberhasilannya sangat bergantung pada efektivitas eksekusi di lapangan. Risiko penundaan jadwal implementasi juga dinilai masih cukup besar mengingat cakupan kebijakan yang luas dengan waktu persiapan yang terbatas.
Menghadapi kondisi pasar yang volatil, CGS Sekuritas menyarankan investor untuk lebih selektif. Sektor minyak dan gas, emas, serta nikel dinilai lebih menarik dibandingkan sektor batu bara dan CPO.
Saat ini, saham-saham pilihan utama CGS Sekuritas meliputi BBNI, MEDC, EXCL, ARCI, CMRY, HMSP, GGRM, dan WIIM. Di sisi lain, saham emiten perkebunan seperti DSNG dan TAPG dicoret dari daftar pilihan utama karena tingginya ketidakpastian kebijakan yang membayangi sektor CPO.










