JAKARTA – Konflik yang melibatkan AS-Israel dan Iran telah memicu guncangan ekonomi global, terutama akibat penutupan Selat Hormuz yang mendongkrak harga energi. Namun, di balik beban biaya hidup yang kian berat bagi masyarakat, sejumlah perusahaan justru mencatatkan rekor pendapatan triliunan rupiah.
Kondisi ketidakpastian geopolitik menjadi katalis keuntungan bagi perusahaan yang bergerak di sektor energi, perbankan, pertahanan, hingga energi terbarukan. Berikut adalah sektor-sektor yang diuntungkan dari berlanjutnya konflik di Timur Tengah.
1. Sektor Minyak dan Gas
Gejolak pasar energi akibat terganggunya distribusi minyak di Selat Hormuz menjadi berkah bagi raksasa energi dunia. Perusahaan yang memiliki divisi perdagangan aktif mampu memetik untung dari tajamnya fluktuasi harga.
BP mencatatkan kenaikan laba dua kali lipat menjadi US$3,2 miliar (Rp55,87 triliun) pada kuartal pertama tahun ini. Sementara Shell membukukan laba US$6,92 miliar (Rp120,82 triliun) dan TotalEnergies mencatat lonjakan laba hampir sepertiga menjadi US$5,4 miliar (Rp94,2 triliun). Meski ExxonMobil dan Chevron sempat mengalami kendala pasokan, kinerja mereka tetap berada di atas ekspektasi pasar.
2. Perbankan Investasi
Bank-bank besar di Wall Street meraup keuntungan besar dari tingginya volume perdagangan selama masa perang. Investor yang panik memilih mengalihkan aset mereka dari saham berisiko ke instrumen yang lebih aman, yang kemudian memicu aktivitas transaksi masif.
JP Morgan mencatat rekor pendapatan divisi perdagangan sebesar US$11,6 miliar (Rp202,5 triliun). Secara total, grup perbankan besar termasuk Bank of America, Morgan Stanley, Citigroup, Goldman Sachs, dan Wells Fargo, mencatatkan laba gabungan mencapai US$47,7 miliar (Rp832,84 triliun) dalam tiga bulan pertama tahun 2026.
3. Industri Pertahanan
Sektor pertahanan menjadi pihak yang paling cepat mendapatkan pesanan baru seiring dengan kebutuhan negara-negara untuk memperkuat sistem pertahanan udara dan menangkal ancaman drone. Pemerintah kini lebih agresif dalam mengisi kembali stok persenjataan mereka.
BAE Systems memproyeksikan pertumbuhan laba yang signifikan tahun ini. Begitu pula dengan kontraktor besar seperti Lockheed Martin, Boeing, dan Northrop Grumman yang melaporkan antrean pesanan dalam jumlah rekor. Namun, pasar mulai waspada terhadap valuasi saham sektor ini yang dianggap sudah terlalu tinggi.
4. Energi Terbarukan
Perang di Timur Tengah secara tidak langsung mempercepat transisi energi. Kebutuhan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil demi stabilitas nasional membuat investasi pada sektor energi hijau semakin krusial.
Perusahaan seperti NextEra Energy di Amerika Serikat mencatat kenaikan nilai saham hingga 17% tahun ini. Di Eropa, produsen turbin angin seperti Vestas dan Orsted melaporkan kenaikan laba. Bahkan, Octopus Energy di Inggris mencatat lonjakan penjualan panel surya hingga 50% sejak akhir Februari, seiring dengan meningkatnya minat konsumen terhadap energi mandiri dan kendaraan listrik akibat tingginya harga bensin global.










