TEHERAN – Potensi perjanjian damai antara Iran dan Amerika Serikat dilaporkan tengah dalam tahap finalisasi. Kesepakatan ini mencakup penghentian perang di seluruh lini sebagai upaya deeskalasi konflik yang telah berlangsung sejak Februari lalu.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa draf kesepakatan tersebut telah sebagian besar dinegosiasikan dan kini hanya menunggu penyelesaian akhir. Terobosan diplomatik ini tercapai setelah kunjungan intensif Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, ke Teheran dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam poin-poin kesepakatan yang dilaporkan kantor berita *Tasnim*, AS berkomitmen untuk mencabut sanksi terhadap sektor minyak Iran selama masa negosiasi berlangsung. Selain itu, Teheran menuntut pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai syarat mutlak perubahan pengaturan di Selat Hormuz.
Terkait akses maritim, jika kesepakatan tercapai, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz akan dipulihkan ke kondisi normal sebelum perang dalam kurun waktu 30 hari. Namun, Iran menegaskan akan tetap mempertahankan hak kedaulatan atas jalur strategis tersebut dengan metode yang akan diumumkan kemudian.
Negosiasi ini juga mencakup tuntutan Iran atas pelepasan sebagian aset negara yang selama ini dibekukan oleh pihak Barat. Selain itu, draf kesepakatan turut mengatur jendela waktu negosiasi selama 60 hari untuk membahas kembali program nuklir Teheran.
Pihak Iran menekankan bahwa setiap perubahan pada sistem navigasi dan transit di Selat Hormuz sangat bergantung pada implementasi penuh komitmen Amerika Serikat dalam nota kesepahaman tersebut.
Sebagai informasi, upaya gencatan senjata dalam konflik AS-Iran yang pecah pada 28 Februari 2026 ini pertama kali dimediasi oleh Pakistan pada 8 April lalu. Kesepakatan ini diharapkan menjadi titik balik untuk menghentikan berbagai serangan, termasuk upaya penghentian agresi di Lebanon.










