YOGYAKARTA – Kabar duka mengenai meninggalnya budayawan Emha Ainun Nadjib, yang akrab disapa Cak Nun, dipastikan sebagai informasi bohong atau hoaks. Isu tersebut kembali beredar luas di berbagai grup WhatsApp sejak Selasa, 19 Mei hingga Rabu, 20 Mei 2026.

Pesan berantai tersebut mengeklaim bahwa Cak Nun wafat di Charité Mitte, Berlin, Jerman, pada pukul 10.35 CEST. Narasi yang menggunakan campuran bahasa Arab dan Indonesia itu sempat memicu keresahan, terutama di kalangan budayawan, akademisi, hingga alumni pesantren yang langsung melakukan konfirmasi ke pihak keluarga.

Adik Cak Nun, Yusron Aminullah, membantah keras kabar tersebut. Ia menegaskan bahwa kakaknya saat ini dalam keadaan sehat. “Mas Cak Nun sehat. Itu bukan beliau,” ujar Yusron saat dikonfirmasi.

Penjelasan senada disampaikan adik Cak Nun lainnya, Zakki. Ia meluruskan bahwa sosok yang meninggal di Jerman memang memiliki nama yang sama, yakni Emha Ainun Najib, namun bukan tokoh budayawan tersebut.

Menurut informasi yang beredar di kalangan budayawan, mendiang adalah seorang penggemar berat Cak Nun. Karena kekagumannya, orang tua almarhum memberikan nama yang identik kepada anaknya. Kesamaan nama inilah yang memicu kekeliruan informasi di ruang publik.

Budayawan di Yogyakarta menyoroti bahwa fenomena pemberian nama tokoh inspiratif memang lazim di masyarakat Indonesia. Namun, kasus ini menjadi pelajaran akan pentingnya verifikasi data sebelum menyebarkan informasi, terutama yang menyangkut kabar duka tokoh publik.

Kabar mengenai wafatnya Cak Nun diketahui bukan kali pertama terjadi. Berita bohong serupa berulang kali muncul di media sosial dalam beberapa tahun terakhir.

Pihak keluarga kembali mengimbau masyarakat agar lebih bijak dan berhati-hati dalam menyebarkan pesan berantai. Verifikasi melalui sumber resmi sangat diperlukan guna mencegah kepanikan dan kesimpangsiuran informasi di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *