JAKARTA – Investor pasar modal tengah menanti hasil evaluasi kuartalan FTSE Global Equity Index Series yang dijadwalkan dirilis pada Jumat (22/5/2026) waktu Amerika Serikat, atau Sabtu (23/5/2026) pukul 05.00 WIB. Hasil tinjauan ini diprediksi akan menjadi sentimen utama yang memengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (25/5/2026).
Riset BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa ekspektasi pelaku pasar saat ini cenderung rendah. Sentimen negatif membayangi setelah MSCI menghapus enam saham dari MSCI Standard Index pada pekan lalu. Selain itu, FTSE sebelumnya telah memberi sinyal akan mengeluarkan saham dengan kepemilikan yang sangat terkonsentrasi (*tightly held*) dari daftar indeks mereka.
Terdapat dua skenario yang berpotensi memengaruhi pasar. Jika hasil tinjauan FTSE lebih buruk dari ekspektasi, IHSG berisiko tertekan kembali pada awal pekan depan. Sebaliknya, jika FTSE tidak mengambil langkah agresif, hasil evaluasi tersebut dapat menjadi katalis positif bagi pasar saham domestik yang telah terkoreksi dalam beberapa pekan terakhir.
FTSE Russell sebelumnya telah memberikan peringatan keras terkait saham-saham di Indonesia yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi (*high shareholding concentration*/HSC). Dalam pengumuman resminya, penyedia indeks global tersebut menegaskan akan menghapus saham berkategori HSC dari indeks, bahkan dengan mekanisme penilaian harga menjadi nol (*price to zero*).
Langkah tegas ini diambil karena FTSE menilai konsentrasi kepemilikan yang terlalu tinggi dapat menurunkan likuiditas saham, sehingga menyulitkan investor global, khususnya mereka yang berbasis *index tracking*, untuk bertransaksi.
Meski demikian, FTSE Russell mengakui bahwa otoritas pasar modal Indonesia telah melakukan sejumlah langkah perbaikan untuk meningkatkan transparansi. Upaya tersebut di antaranya pembukaan data kepemilikan saham di atas 1%, penerbitan daftar saham HSC, hingga penguatan pelaporan klasifikasi investor.
Namun, FTSE menilai kondisi pasar masih memerlukan masa pemantauan yang lebih panjang. Oleh karena itu, dalam tinjauan Juni 2026, mereka hanya akan melakukan pembaruan terbatas. Cakupannya meliputi perubahan klasifikasi industri, pembaruan jumlah saham beredar, penurunan *free float*, hingga penghapusan emiten akibat aksi korporasi seperti *spin-off* atau faktor ESG.










