JAKARTA – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan surat utang korporasi di Indonesia akan tetap solid sepanjang 2026. Nilai penerbitan obligasi diperkirakan berada di kisaran Rp 154 triliun hingga Rp 196,86 triliun, dengan titik tengah di angka Rp 175,77 triliun.
Kepala Divisi Riset Pefindo, Suhindarto, menyatakan bahwa proyeksi tersebut didorong oleh tingginya nilai obligasi korporasi yang jatuh tempo pada 2026. Data menunjukkan terdapat surat utang senilai Rp 124,12 triliun yang akan jatuh tempo pada periode Mei hingga Desember 2026.
Besarnya nilai jatuh tempo tersebut diprediksi akan memicu aktivitas *refinancing* atau penerbitan obligasi baru oleh perusahaan untuk memenuhi kewajiban mereka. Selain itu, kebutuhan pendanaan untuk ekspansi bisnis di tengah stabilitas ekonomi domestik turut memperkuat prospek pasar obligasi tahun ini.
Hingga Maret 2026, Pefindo mencatat realisasi penerbitan surat utang korporasi telah mencapai Rp 59,35 triliun, melampaui nilai jatuh tempo yang sebesar Rp 26,88 triliun. Capaian ini mencerminkan tingginya minat korporasi dalam memanfaatkan momentum suku bunga yang relatif rendah pada awal tahun untuk menggalang pendanaan.
Meski prospek pasar terlihat cerah, Pefindo mengingatkan sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai. Risiko geopolitik global, terutama konflik di Timur Tengah, dinilai dapat memicu volatilitas pasar dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi.
Selain risiko geopolitik, tekanan terhadap nilai tukar Rupiah juga menjadi faktor kewaspadaan. Depresiasi Rupiah berpotensi memicu *imported inflation*, yang pada akhirnya dapat menekan pasar obligasi melalui kenaikan imbal hasil di masa depan.









