LONDON – Ekonom asal Jerman, Joachim Klement, kembali menjadi sorotan dunia setelah model statistiknya memprediksi Belanda sebagai juara Piala Dunia 2026. Prediksi ini mencuri perhatian karena Klement memiliki rekam jejak yang luar biasa, dengan tepat menebak pemenang Piala Dunia sejak edisi 2014, 2018, hingga 2022.
Piala Dunia 2026 mendatang akan menjadi turnamen yang unik karena diselenggarakan di tiga negara yakni Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, mulai 11 Juni hingga 19 Juli. Sebanyak 48 negara akan berlaga dalam kompetisi sepak bola paling bergengsi di dunia ini.
Dalam permodelan terbarunya, Klement merinci jalannya turnamen hingga babak gugur. Hasil analisanya mencakup momen mengejutkan seperti kemenangan Jepang atas Brasil serta tersingkirnya Skotlandia oleh Korea Selatan.
Khusus untuk timnas Inggris yang kini diasuh Thomas Tuchel, model tersebut memprediksi mereka akan melaju hingga babak semifinal. Namun, langkah The Three Lions diperkirakan terhenti oleh Portugal, mengulang sejarah pertemuan kedua tim pada Piala Dunia 2006.
Meski statistiknya sangat akurat dalam tiga edisi terakhir, Klement menegaskan bahwa permodelannya bukanlah alat taruhan yang mutlak. Ia menyebut karyanya hanya sebuah latihan untuk menunjukkan sisi absurd dari upaya manusia memprediksi hasil sepak bola.
“Ini adalah latihan untuk menunjukkan kesombongan para ekonom yang berpikir mereka bisa meramalkan sesuatu yang tidak sepenuhnya mereka pahami. Namun, jika Anda cukup sering beruntung, orang akan menganggap Anda sebagai peramal,” ujar Klement.
Ia menjelaskan bahwa kesuksesan sebuah tim memang dipengaruhi faktor sistemik seperti jumlah penduduk, kekayaan negara, iklim, hingga peringkat FIFA. Namun, Klement mengingatkan bahwa separuh dari hasil pertandingan tetap ditentukan oleh keberuntungan.
Menurutnya, faktor seperti keputusan wasit, performa pemain di hari pertandingan, hingga bola yang membentur tiang gawang, adalah variabel yang tidak mungkin diprediksi oleh data statistik mana pun.
Saat ini, Klement yang bekerja sebagai ahli strategi di bank investasi Panmure Liberum mengaku merasakan tekanan akibat ekspektasi publik yang tinggi. Bahkan, beberapa rekan kerjanya sudah mulai memasang taruhan pada Belanda berdasarkan hasil prediksinya.
“Jika Belanda tersingkir, saya rasa keesokan harinya saya harus bekerja dari rumah,” canda Klement menanggapi tingginya animo terhadap analisanya.
Lebih dari sekadar statistik, Klement berharap prediksinya bisa menjadi hiburan bagi publik di tengah berbagai krisis global yang terjadi saat ini. Baginya, sepak bola tetaplah tentang kejutan yang tidak bisa dibatasi oleh angka.










