JAKARTA – Kinerja PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) diprediksi masih akan menghadapi tekanan berat sepanjang kuartal II-2026. Meskipun pendapatan dan volume penjualan perusahaan mulai menunjukkan tren pemulihan, profitabilitas emiten semen pelat merah ini masih terhambat oleh lonjakan biaya produksi, terutama dari sektor energi.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026, SMGR mencatatkan pendapatan sebesar Rp 8,29 triliun atau tumbuh 8,3% secara tahunan (*year on year*/YoY). Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan volume penjualan domestik sebesar 5,4% dan kenaikan rata-rata harga jual (*average selling price*/ASP) domestik sebesar 2,2%.
Kendati demikian, realisasi laba bersih SMGR pada periode tersebut hanya mencapai Rp 80 miliar. Meski angka ini tumbuh 89% secara tahunan, pencapaian tersebut masih berada di bawah ekspektasi pasar akibat tingginya beban pajak dan pembengkakan biaya produksi.
Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menilai industri semen nasional saat ini belum berada dalam kondisi yang sepenuhnya sehat. Tingginya harga energi, khususnya batu bara, menjadi beban utama yang menggerus margin laba perusahaan.
“Kondisi ini belum sehat karena laba bersih tergerus oleh level margin yang lebih rendah akibat krisis energi,” ujar Harry.
Lebih lanjut, Harry memperkirakan kinerja SMGR akan tetap menantang pada kuartal II-2026. Ia belum melihat adanya potensi perbaikan signifikan dalam jangka pendek, mengingat permintaan pasar yang belum pulih sepenuhnya di tengah tekanan inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah, serta potensi suku bunga tinggi yang dapat menekan daya beli masyarakat.
Di sisi lain, pasar kini mencermati sentimen dari kebijakan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara. Harry menilai, normalisasi kebijakan tersebut berpotensi menurunkan harga batu bara, yang pada akhirnya dapat meringankan tekanan biaya produksi bagi perusahaan semen.
Terkait prospek investasi, analis UBS Sekuritas Indonesia, Ivan Reynaldo Sutheja, mempertahankan rekomendasi *netral* untuk saham SMGR dengan target harga di level Rp2.700 per saham. Sementara itu, konsensus analis mematok target harga saham SMGR di angka Rp3.000 per saham.










