JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada di bawah tekanan dan kini memasuki fase keseimbangan baru di tengah ketidakpastian kondisi global. Hingga penutupan perdagangan Rabu (22/4/2026), mata uang Garuda ditutup melemah 0,22% ke level Rp 17.181 per dolar AS dari posisi sebelumnya di angka Rp 17.143.
Tren pelemahan ini membuat rupiah belum mampu keluar dari tekanan pasar. Sebagai catatan, mata uang domestik ini sempat menyentuh rekor terlemahnya pada Jumat (17/4) di level Rp 17.189 per dolar AS.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai bahwa level Rp 17.000 merupakan realita ekonomi baru yang sulit dihindari. Ia memandang peluang rupiah untuk kembali ke kisaran Rp 16.000 sangat kecil.
“Rp 17.000 adalah realita baru. Hampir tidak ada alasan yang memadai bagi rupiah untuk kembali ke level Rp 16.000,” ujar Wijayanto, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, tekanan rupiah ke depan diprediksi masih akan berlanjut akibat dinamika global yang belum kondusif. Salah satu pemicu utama adalah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Teluk yang dinilai kurang menguntungkan bagi ekonomi Indonesia.
Kondisi ini berpotensi memicu arus modal keluar (*capital outflow*) secara berkelanjutan. Bank Indonesia (BI) mencatat, sepanjang Januari-Maret 2026, terjadi *net outflows* pada investasi portofolio asing sebesar US$ 1,7 miliar.
Kendati demikian, arus modal mulai menunjukkan perbaikan pada awal triwulan II 2026. Hingga 20 April 2026, tercatat *net inflows* sebesar US$ 1,9 miliar, yang didorong oleh masuknya modal asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) seiring kenaikan imbal hasil.
Dalam upaya menjaga stabilitas, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 21-22 April 2026. Langkah tersebut dinilai tepat oleh Wijayanto karena kenaikan suku bunga berisiko menekan sektor riil dan memberikan sinyal negatif bagi investor.
“Kalau dinaikkan justru akan semakin memberatkan sektor riil dan mengirim pesan bahwa ekonomi kita rapuh,” tambahnya.
Wijayanto menekankan bahwa saat ini prioritas utama bukanlah menguatkan kembali rupiah ke level Rp 16.000, melainkan menjaga stabilitas nilai tukar. Dalam hal ini, kebijakan fiskal pemerintah memegang peranan krusial.
Pemerintah diminta menjaga kredibilitas fiskal dengan memastikan kesinambungan anggaran, menekan ketergantungan pada utang, serta menjaga keselarasan antara belanja negara dan penerimaan.
Untuk prospek hingga akhir 2026, Wijayanto memperkirakan rupiah cenderung masih dalam tren pelemahan namun tetap berada dalam rentang yang aman. Ia pun menilai tidak ada potensi guncangan ekonomi yang luar biasa dalam waktu dekat.









