NEW YORK – Indeks utama Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Selasa (2/6/2026). Sentimen positif dari antusiasme pelaku pasar terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) berhasil meredam kekhawatiran atas ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran terkait isu Selat Hormuz.
Dow Jones Industrial Average naik 0,45% ke level 51.307,79. Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 0,13% ke posisi 7.609,90 dan Nasdaq Composite naik tipis 0,03% menjadi 27.093,90.
Sektor utilitas mencatatkan kinerja terbaik di antara 11 sektor utama S&P 500, sedangkan sektor layanan komunikasi menjadi penekan indeks. Sepanjang sesi ini, volume perdagangan di bursa AS mencapai 20,51 miliar saham, melampaui rata-rata 20 hari perdagangan terakhir sebesar 19,93 miliar saham.
Lonjakan saham teknologi menjadi motor utama pergerakan pasar. Saham Hewlett Packard Enterprise (HPE) melesat 19,5% setelah perusahaan menaikkan target keuangan jangka panjangnya. Di sisi lain, Marvell Technology melonjak 32,5% setelah CEO Nvidia, Jensen Huang, memproyeksikan perusahaan tersebut sebagai pemain kunci di industri semikonduktor masa depan.
Sebaliknya, saham Alphabet turun 3,9%. Perusahaan induk Google tersebut mengumumkan rencana penggalangan dana sebesar US$ 80 miliar melalui penawaran ekuitas, termasuk keterlibatan Berkshire Hathaway, guna mendanai infrastruktur AI yang masif.
Kepala Manajemen Portofolio di Horizon Investments, Mike Dickson, menilai pergerakan pasar saat ini cukup dinamis meski terlihat tenang dari sisi indeks utama. “Ada dispersi besar dalam ekosistem infrastruktur AI. Pasar saat ini didorong oleh momentum kuat, dan bukan tidak mungkin indeks akan mencetak level lebih tinggi di akhir musim panas nanti,” ujar Dickson.
Di sisi geopolitik, pasar masih memantau perkembangan negosiasi antara AS dan Iran terkait penghentian perang. Meski Teheran sedang menelaah proposal AS, komunikasi antar kedua negara dilaporkan masih tersendat. Ketegangan ini diperparah dengan situasi di Lebanon yang memicu kenaikan harga minyak mentah.
Dinamika ekonomi global turut memengaruhi langkah bank sentral AS. Pejabat Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga lanjutan mungkin diperlukan jika inflasi terus meningkat akibat gejolak harga energi.
Data ekonomi AS menunjukkan adanya kenaikan tak terduga pada jumlah lowongan pekerjaan, terutama di sektor jasa profesional. Namun, tingkat perekrutan dan pengunduran diri justru melambat, yang mengindikasikan adanya kehati-hatian di pasar tenaga kerja.
Investor kini menantikan laporan ketenagakerjaan bulan Mei yang akan dirilis pada Jumat mendatang. Para ekonom memprediksi ekonomi AS menambah 85.000 lapangan kerja baru dengan tingkat pengangguran yang diperkirakan stabil di angka 4,3%.










