JAKARTA — Rencana pemerintah untuk menaikkan tarif royalti sektor pertambangan memicu volatilitas tinggi pada saham-saham emiten logam di Bursa Efek Indonesia. Kebijakan yang akan menyasar komoditas tembaga, timah, nikel, emas, hingga perak ini diproyeksikan bakal menekan kinerja profitabilitas emiten dalam jangka menengah.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menggelar uji publik terkait rencana perubahan skema royalti pada Jumat (8/5/2026). Perubahan tersebut mencakup penyesuaian interval harga mineral acuan serta kenaikan tarif secara progresif. Rencananya, kebijakan ini akan segera diusulkan kepada Presiden Prabowo Subianto dengan target pemberlakuan mulai Juni 2026 mendatang.

Berdasarkan data yang dihimpun, timah menjadi komoditas dengan usulan kenaikan tarif paling signifikan, yakni dari rentang 3%–10% menjadi 5%–20%. Sementara itu, tarif royalti konsentrat tembaga diusulkan naik menjadi 9%–13%, katoda tembaga 7%–10%, emas 14%–20%, dan perak 5%–8%. Untuk nikel, tarif royalti tetap di kisaran 14%–19%, namun dengan perubahan pada interval harga acuannya.

Analis menilai PT Timah Tbk. (TINS) menjadi emiten yang paling terdampak oleh kebijakan ini. Estimasi menunjukkan laba bersih TINS pada 2026 berpotensi tergerus hingga 20% jika tarif baru resmi diterapkan. Sentimen negatif ini tercermin dari koreksi tajam harga saham TINS sebesar 14,88% pasca-pengumuman uji publik tersebut.

Di sisi lain, emiten nikel dengan bisnis terdiversifikasi seperti PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dinilai lebih mampu meminimalisir dampak kebijakan ini. Meski demikian, sektor minerba secara keseluruhan masih menghadapi ketidakpastian tinggi, terutama dengan adanya wacana pemberlakuan bea ekspor dan *windfall tax* yang tengah dibahas oleh Kementerian Keuangan.

Pasar bereaksi negatif terhadap rencana tersebut. Pada perdagangan Jumat (8/5/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 2,86% ke level 6.969,39. Penurunan dipimpin oleh sektor material dasar yang anjlok 7,80%, disusul sektor energi dan industri yang masing-masing melemah lebih dari 4%.

Sentimen pasar domestik semakin tertekan oleh kombinasi berbagai faktor eksternal dan internal. Selain isu royalti, investor juga merespons negatif penurunan cadangan devisa Indonesia sebesar US$2 miliar serta potensi *outflow* dana asing akibat penyesuaian indeks MSCI yang diprediksi mencapai Rp30 triliun.

Para pelaku pasar kini menanti kepastian mengenai skema royalti progresif ini. Mengingat sektor minerba merupakan salah satu penopang utama IHSG, analis memperkirakan pergerakan saham di sektor ini masih akan sangat volatil dalam jangka pendek.

*Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul menjadi tanggung jawab pembaca.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *