JAKARTA – CEO Badan Pengelola Investasi Danantara, Rosan Roeslani, menilai saham-saham perusahaan pelat merah yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sangat potensial untuk dijadikan instrumen investasi jangka panjang. Optimisme ini didasari oleh fundamental emiten BUMN yang dinilai sangat solid.

Rosan menyoroti imbal hasil atau *yield* dari emiten BUMN, khususnya sektor perbankan (Himbara) dan pertambangan (*minerals*). Menurutnya, sektor-sektor tersebut konsisten memberikan *yield* yang atraktif di kisaran 10 hingga 11 persen.

Selain performa *yield*, Rosan menyebut harga saham perbankan BUMN saat ini masih tergolong *undervalued* atau berada di bawah harga wajarnya. Hal ini tercermin dari rasio *price-to-book value* (PBV) yang masih di bawah 1 kali. Padahal, dalam kondisi pasar yang normal, rasio tersebut seharusnya mampu mencapai 2 hingga 3 kali lipat.

Lebih lanjut, Rosan memberikan apresiasi atas upaya reformasi yang terus dilakukan oleh pihak BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ia meyakini langkah-langkah perbaikan tersebut akan meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia di masa depan.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, memaparkan bahwa fundamental emiten yang tercatat di bursa secara umum menunjukkan tren positif. Saat ini, terdapat 957 perusahaan yang terdaftar, dengan 85 persen di antaranya telah merampungkan laporan keuangan.

Berdasarkan data yang terkumpul, sektor korporasi di bursa domestik mencatatkan pertumbuhan kinerja yang signifikan. “Secara fundamental, laba bersih emiten meningkat sebesar 21,5 persen,” ujar Nyoman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *