JAKARTA – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% mengubah peta investasi di pasar obligasi domestik. Pelaku pasar kini bergeser dari strategi mengejar keuntungan jangka pendek (*capital gain*) menjadi lebih mengutamakan stabilitas dan menjaga imbal hasil riil.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa langkah BI tersebut merupakan respons atas tekanan global, lonjakan harga energi, serta meningkatnya risiko inflasi akibat konflik di Timur Tengah. Kebijakan ini dinilai krusial guna memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah penguatan dolar AS dan tingginya *yield* obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Dalam kondisi ini, tren kupon obligasi baru diprediksi akan terus bergerak naik atau bertahan di level tinggi hingga akhir tahun. Pemerintah maupun korporasi kini harus menawarkan imbal hasil yang lebih menarik agar tetap mampu menyerap minat investor di tengah volatilitas pasar global.
Data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) menunjukkan bahwa permintaan lelang Surat Utang Negara (SUN) mulai melemah sebelum kenaikan suku bunga BI. Setelah kenaikan 50 bps, pasar dipastikan akan menuntut kompensasi imbal hasil yang lebih tinggi, khususnya untuk obligasi tenor menengah hingga panjang.
Josua menyarankan investor ritel yang konservatif untuk memperbesar porsi obligasi pemerintah ketimbang obligasi korporasi. Hal ini dikarenakan lembaga pemeringkat global seperti Fitch dan Moody’s telah mengubah *outlook* Indonesia menjadi negatif, sehingga risiko pelebaran *spread* pada obligasi korporasi semakin terbuka jika pasar kembali *risk off*.
Bagi investor yang memahami risiko harga, obligasi *Fixed Rate* (FR) di pasar sekunder mulai tampak menarik. Koreksi harga pada seri FR saat ini memberikan peluang ganda, yakni kupon yang lebih tinggi sekaligus potensi *capital gain* di masa depan jika situasi global membaik dalam 6 hingga 12 bulan ke depan.
Namun, strategi yang paling dianjurkan saat ini adalah fokus pada *carry income* atau pendapatan rutin dari kupon. Investor disarankan tidak terburu-buru menempatkan seluruh dana sekaligus, melainkan melakukan investasi secara bertahap dengan mengombinasikan obligasi tenor pendek dan menengah.
Tenor pendek dinilai lebih aman karena memiliki sensitivitas yang lebih rendah terhadap kenaikan suku bunga. Sementara itu, untuk obligasi korporasi, investor diminta tetap selektif dengan memilih perusahaan berkualitas tinggi dari sektor defensif yang memiliki likuiditas baik.
Secara keseluruhan, tantangan utama investasi obligasi saat ini bukan pada risiko gagal bayar, melainkan pada risiko harga akibat volatilitas pasar. Investor diingatkan untuk terus mencermati pergerakan rupiah, harga minyak dunia, serta arus modal asing sebelum mengambil keputusan investasi lebih lanjut.










