WASHINGTON – Dugaan praktik perdagangan orang dalam (*insider trading*) membayangi sejumlah keputusan besar Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Analisis data volume perdagangan menunjukkan adanya lonjakan taruhan bernilai jutaan dolar di pasar keuangan sesaat sebelum Trump mengumumkan kebijakan atau pernyataan yang berdampak signifikan pada ekonomi.

Investigasi BBC terhadap aktivitas pasar menunjukkan pola transaksi tidak wajar, baik di bursa saham konvensional maupun platform pasar prediksi berbasis blockchain. Transaksi ini kerap terjadi hanya beberapa menit sebelum pengumuman resmi dirilis ke publik.

Praktik ini memicu kekhawatiran karena memberikan keuntungan ilegal bagi pihak tertentu yang diduga memiliki akses terhadap informasi rahasia. Meski secara hukum tindakan ini dilarang sejak 2012, hingga kini belum ada pihak yang berhasil dijerat secara pidana.

Beberapa peristiwa krusial yang menjadi sorotan meliputi:

* Konflik AS-Iran (Maret 2026): Harga minyak anjlok 25% setelah Trump menyatakan perang “hampir selesai” melalui wawancara. Namun, taruhan pada penurunan harga minyak telah melonjak 47 menit sebelum pernyataan itu tersebar luas.
* Tarif Perdagangan (April 2025): Saat Trump mengumumkan jeda tarif 90 hari, indeks S&P 500 melonjak tajam. Data mencatat ada transaksi besar senilai US$2 juta yang masuk ke pasar tepat sebelum pengumuman tersebut, yang berpotensi meraup keuntungan hingga US$20 juta.
* Kasus Prediksi Maduro (Januari 2026): Sebuah akun di platform Polymarket memasang taruhan US$32.500 bahwa Presiden Venezuela Nicolás Maduro akan lengser. Sehari kemudian, Maduro ditangkap dan pemilik akun tersebut meraup keuntungan US$436.000.

Fenomena ini telah memicu desakan dari anggota Senat AS agar Securities and Exchange Commission (SEC) melakukan investigasi mendalam terhadap potensi pengayaan diri sendiri oleh kalangan dalam pemerintahan. Meski demikian, pihak SEC menolak memberikan komentar terkait proses penyelidikan.

Di sisi lain, platform pasar prediksi seperti Polymarket menyatakan telah menerapkan aturan ketat untuk mencegah perdagangan orang dalam. Gedung Putih juga sempat mengeluarkan imbauan internal kepada staf agar tidak menggunakan informasi orang dalam untuk bertaruh di pasar prediksi.

Pakar regulasi keuangan, Paul Oudin, menilai bahwa pembuktian kasus ini sangat sulit secara hukum. Menurutnya, meski pola perdagangan menunjukkan adanya pihak yang mengetahui isi pengumuman Trump sebelum dipublikasikan, otoritas sulit menuntut siapa pun tanpa bukti otentik mengenai sumber informasi tersebut.

“Bisa saja terjadi perdagangan besar-besaran yang jelas menunjukkan seseorang mengetahui apa yang akan dinyatakan Trump, namun ada peluang kuat bahwa tidak seorang pun akan dituntut,” ujar Oudin.

Hingga saat ini, Gedung Putih tetap membantah keterlibatan pejabat pemerintah dalam aktivitas perdagangan tersebut dan menyebut laporan yang beredar tidak berdasar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *