Jakarta – Lonjakan harga komoditas energi global yang terjadi belakangan ini memicu kekhawatiran baru bagi stabilitas ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Kenaikan harga minyak mentah dan gas alam dipicu oleh kombinasi antara ketegangan geopolitik yang memanas serta gangguan pada rantai pasokan global.
Berdasarkan data Trading Economics per Minggu (17/5/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 10,48% dalam sepekan terakhir menjadi US$ 105,4 per barel. Tren serupa terjadi pada minyak Brent yang naik 7,8% ke level US$ 109,3 per barel, serta harga gas alam yang terkerek 7,3% ke posisi US$ 2,96 per mmbtu.
Analis komoditas menyebut faktor utama kenaikan ini adalah kebuntuan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap proposal perdamaian Iran telah meningkatkan risiko eskalasi konflik di Timur Tengah.
Situasi ini diperparah dengan adanya ancaman gangguan di Selat Hormuz, jalur distribusi vital yang menyuplai sekitar 20% kebutuhan minyak dan gas dunia. Ketidakpastian di jalur tersebut menciptakan premi risiko tinggi yang langsung mendongkrak harga energi secara global.
Selain faktor geopolitik, pasar energi juga tertekan oleh menipisnya stok global. Data menunjukkan cadangan minyak mentah AS berkurang 2,1 juta barel, sementara gangguan pasokan dari Timur Tengah diperkirakan memangkas suplai global hingga 10,8 juta barel per hari pada Mei 2026.
Bagi Indonesia, tren kenaikan harga energi ini membawa dampak negatif yang signifikan. Kondisi tersebut berpotensi menekan fiskal negara melalui beban subsidi energi yang membengkak dalam APBN, serta memicu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Proyeksi harga energi ke depan masih sangat bergantung pada dinamika di Selat Hormuz. Jika ketegangan terus berlanjut, harga minyak Brent diprediksi bergerak di rentang US$ 85–US$ 120 per barel sepanjang kuartal II-2026. Namun, dalam skenario ekstrem jika terjadi penutupan permanen atau kerusakan infrastruktur produksi di Selat Hormuz, harga Brent berpotensi menembus angka US$ 150 hingga US$ 200 per barel.
Sebaliknya, jika eskalasi geopolitik mereda pada semester II-2026, harga energi diperkirakan mulai melandai. Pasar diprediksi akan beralih dari fase reli berbasis ketakutan (*fear-driven rally*) menuju fase konsolidasi yang lebih dipengaruhi oleh data ekonomi riil dan perkembangan situasi Timur Tengah.










